Self-discovery: Introvert.

Self-discovery: the process of acquiring insight into one’s own character.

Melihat satu tahun ke belakang, aku banyak mengalami kejadian yang cenderung membantu aku untuk lebih mengenal siapa aku. Selama ini aku sudah banyak sekali mengikuti seminar-seminar bertajuk “Who am I?”, namun semua itu rasanya basi dan kurang membantu aku menemukan siapa diriku. Karena aku percaya, melalui sebuah kejadian yang benar-benar terjadi dalam hidup kita,  bukan sekedar mengikuti seminar, kita bisa mengenal siapa diri kita. Aku percaya begitu karena memang aku tahu bahwa tiap orang memiliki pengertian dan potensi yang berbeda-beda, yang terkadang harus kita temukan melalui pengalaman.

Di post kali ini aku akan cerita tentang pengalamanku mengenal karakter introvert dalam diriku. Ya, aku mengklaim bahwa diriku seorang introvert bukan hanya sekedar melalui post tebak psikologi di instagram ataupun sosmed lainnya, tapi benar-benar melalui pengalaman yang aku rasakan secara pribadi. Continue reading

Moving and redecorating my blog.

Setelah 3 hari bersusah payah, akhirnya aku selesai untuk memindahkan seisi blog ini ke domain baru. Please welcome www.juliusdan.com, lol. Dengan berbagai pertimbangan aku memutuskan untuk membeli domain pribadi di salah satu hoster dan domain provider di Indonesia. Semakin ke sini aku sadar bahwa blog ini merupakan tempat aku menuangkan sisi lain dari hidupku. Maka dari itu, aku putuskan untuk membuatnya sedikit lebih menarik, setidaknya untuk diriku sendiri, hmm.

Aku juga sedikit memberi retouching ke blog ini dengan mengganti template dengan sesuatu yang lebih elegan, dan enak dilihat. Aku memutuskan untuk memasang logo baru untuk blog ku yaitu kapal selam. Continue reading

Pengalaman Ujian Masuk NTU Singapore dan Diterima di Nanyang Business School, NTU!

Berawal dari keisengan saya untuk masukin nilai UN dan rapot ke pendaftaran NTU pada Desember lalu, saya dinyatakan shortlisted sebagai kandidat untuk mengikuti tes University Entrance Examination (UEE) di Jakarta pada akhir Januari. Sebenarnya ini sekedar saran dari keluarga untuk mencoba apply, saya sendiri semacam nggak begitu ingin dan tidak berharap banyak terhadap pendaftaran ini karena sadar akan kemampuan diri dan persiapan saya yang jauh dibawah mereka yang sudah mempersiapkan tes ini berbulan-bulan dalam bentuk bimbel atau mandiri.

Pada awalnya, saya sendiri tidak menduga bakal di shortlist sebagai peserta UEE karena dalam sejarah saya belum pernah terdengar lulusan dari SMA saya yang masuk ke salah satu PTN favorit di Singapore yaitu NTU. Pernah sih ada gosipnya kalau angkatan 5 (which is 20 tahun lalu wkwk..) pernah gitu ada yang masuk NTU, saya sendiri kurang tahu kebenarannya. Continue reading

Menghadapi ujian dan menanti libur natal.

Kira-kira sudah 4 bulan lebih saya di Bandung semenjak datang ke sini pada tanggal 30 Juli 2018. Tidak terasa sih, kalau saya sudah tidak merasakan rumah saya di Purwokerto selama 4 bulan lebih. But I don’t mind about that. Maksud saya, saya sudah terbiasa untuk tinggal berpisah dengan orang tua sejak SMA karena hidup berasrama. Jadi hidup jauh dari keluarga bukan menjadi masalah buat saya.

Lalu apa yang kira-kira menjadi masalah untuk saya? Hidup sendirian. Yup! Kesepian di kos, makan sendiri, tidur sendiri. Meskipun saya sudah cukup mandiri terkait merantau dari keluarga, namun kesendirian masih menjadi masalah bagi saya. Di asrama saya disajikan dengan pemandangan orang-orang seumuran yang berjumlah lebih dari 100 dalam satu gedung tinggal. Jadi terkadang terasa aneh atau semacam shock ketika tiba-tiba harus tinggal sendiri. Yep, I’m starting to miss them now, lol. I hope all of u doing great, guys!

Saat ini saya tengah menghadapi ujian-ujian (UTS II dan UAS), tepatnya sih besok UTS II Kimia. Saya memang cenderung menulis di kala jenuh menghadapi ujian, itulah alasan post saya kebanyakan saat sedang H-1 atau H-2 ujian WKWK. Padahal di ujian-ujian ini saya harus berjuang untuk memperbaiki nilai-nilai saya di UTS I yang cenderung kurang memuaskan hmm. Tapi saya sendiri tidak mempermasalahkannya karena banyak pergulatan batin yang harus saya hadapi akhir-akhir ini yang mengganggu studi saya di ITB.

Saya mulai memikirkan kembali tujuan-tujuan hidup saya, feedback dari setiap aspek di hidup saya. Saya harus kembali untuk belajar bersyukur. Yap, waktu yang akan menjawabnya. Dan momen liburan yang akan datang ini akan menjadi waktu-waktu terbaik saya untuk merenungkan hal-hal tersebut. I can’t wait for this christmas!

Tiga bulan pertama di ITB

Yup. Saya bikin bentuk post baru di blog ini yang akan bersekuel menceritakan kehidupan perkuliahan saya saat ini dan mendatang dengan tajuk #Shared yang artinya (sudah) berbagi. Sebenarnya saya memilih tajuk ini karena ingat dulu saat SD-SMP suka mengunduh lagu bajakan di 4shared dan sejak itu saya menjadi menyukai musik & lagu-lagu internasional maupun lokal. Harapan saya tajuk #Shared yang akan dituliskan dalam bentuk ‘curhatan’ saya ini dapat memberi positive impact juga ke pembaca.

Topik paling hangat saat ini buat saya adalah CHAOS, istilah yang menjadi wajar dirasakan di ITB. Selama 3 bulan ini saya benar-benar merasakan beban yang bisa dibilang lebih berat dari SMA. Sebenernya pas saya dulu di asrama juga berat sih tapi terasa ringan karena selalu ada banyak teman di samping saya, kalau sekarang? Hehe flashback sedikit.. Jadi di Van Lith Berasrama itu satu kamar/unit-nya berjumlah 20-25 orang dan tiap angkatan tinggal dalam satu gedung yang sama untuk asrama putra, jadi kebersamaan itu udah kayak bagian dari hidup kami wkwk. Dan berat rasanya kalau di kuliah harus nge-kos, sendirian, dan ketika kamu bangun karena alarm yang berbunyi, kamu cuma menemukan bahwa di sampingmu ga ada lagi teman-temanmu yang baru bangun juga. Hmm..

Oke kembali ke topik, chaos. Chaos atau sering dipelesetkan “keos” ini menggambarkan ketika 24 jam itu kurang HAHA. Actually, in this past 3 months, I took a big leap that is uncommon to others. Saya langsung mencoba terjun ke kegiatan non-akademis, daftar sana-sini, pokoknya semua saya coba. Ya resionya perkuliahan agak terlepas. Tapi gapapa, ini adalah keputusan yang emang saya pilih dan saya tahu betul resikonya.

Pengalaman seleksi SEA Undergraduate Scholarships

Yup! Prinsip saya adalah berbagi pengalaman yang menurut saya bisa berguna untuk orang lain. Kali ini saya akan berbagi cerita saya dari awal saya mengenal beasiswa SEA Undergraduate Scholarships , proses seleksi, hingga pada akhirnya saya terpilih menjadi salah satu dari 10 scholar dari ITB.

Image result for SEA undergraduate scholarship

Intro singkat aja, jadi SEA Undergraduate Scholarship merupakan beasiswa yang dianugerahkan oleh perusahaan yang terpusat di Singapore, Asia antara lain Shopee, Garena, dan Airpay. Untuk informasi lebih lanjut terkait pemberi beasiswa bisa kalian search di google ya, karena fokus saya di post ini lebih ke berbagi informasi dan tips proses seleksi. Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa baru yang baru aja masuk tahun ini (2018) ke universitas/institusi yang telah mereka pilih. Jadi ada 5 universitas/institusi  yang mereka pilih tahun ini: UI, ITB, ITS, UGM, dan BINUS. Tiap univ bakal diambil 10 orang, jadi total scholar tahun ini adalah 50 orang.

Continue reading

Kenapa saya ngeblog?

Jadi kembali ke pertanyaan mendasar dibalik semua postingan yang telah ada ini. Kenapa saya ngeblog? Btw, post ini bakal singkat aja ya.

Jujur ini sulit untuk dijelaskan, yang pasti kalau jawaban untuk mencari keuntungan.. HMM GA BANGET SIH :)) Yaa dulu sempet punya pengalaman untuk membuka website-website basis komersil yang bertujuan mencari keuntungan, tapi ga saya lanjutin. Dan untuk blog pribadi saya ini sama sekali ga ada tujuan komersil atau mencari keuntungan.

Nah terus untuk apa? Nyenengin pembaca? Hmm.. pembacanya juga ga banyak sih, mungkin gak sampe 20 orang hehe.

Jadi jawabannya begini:

Saya adalah tipe orang yang bisa kehilangan motivasi sewaktu-waktu, tiba-tiba hilang gitu aja, jenuh. Ya saya punya beberapa teman yang memungkinkan untuk mengembalikan motivasi saya itu, tapi kenyataannya mereka ga selalu ada dan ga selalu sempat untuk hal itu, dan saya ga punya hak untuk memaksakan mereka. Nah ini menjawab pertanyaan tadi.. Ketika saya ngeblog, saya menuliskan tentang petualangan/perjalanan hidup saya yang memang INGIN SAYA TULIS, lalu suatu saat ketika saya sedang putus semangat (sebenernya lumayan sering sih) atau pas lagi capek gitu bakal saya buka blog saya sendiri dan saya baca-baca postingan saya. dan.. sumpah.. itu menghibur banget! Ketika lagi cape kuliah, jenuh kuliah, jenuh daftar beasiswa dan program ini itu, saya akan buka tulisan mengenai perjuangan saya di SMA untuk mencari kuliah, perjuangan saya berburu pengalaman untuk mempersiapkan jenjang yang lebih.

Ketika saya kehilangan semangat, saya akan membaca lagi tulisan saya ketika saya memulai, agar saya teringat kembali alasan saya memulai semuanya dan mengapa saya tidak boleh membiarkan semuanya berakhir begitu saja.

Jadi bagi kalian yang berpikir “Ngapain sih nulis gini, alay, ga ada yang baca juga”, tbh, ga ada masalah kok kalau ga ada yang baca, karena saya sendiri yang membutuhkan tulisan saya suatu saat. Dan kalau memang ada yang membaca dan terinspirasi dari tulisan saya, saya sangat bersyukur bahwa tulisan saya ternyata tidak hanya membawa suasana positif buat saya saja, tapi bisa tersebar ke orang lain.

Bandung dan MABA

Setelah puasa gak nulis sebulan lebih dikarenakan ingin menikmati liburan di rumah HAHA :/ .. Saya pun nulis lagi, memang artikel sebelumnya tentang Trip BALI dan Trip JEPANG belum selesai karena saya males ngelanjutinnya, nunggu waktu senggang baru ngelanjutin itu lagi hehe.. Tapi suatu saat bakal saya selesain kok!

Kemarin 31 Juli 2018, menjadi hari pertama saya di Bandung sebagai mahasiswa baru atau kita lebih kenali sebagai makhluk bernama MABA 😮 (hari yang spesial buat saya juga :)) .. Sampai di Stasiun Bandung pukul 04.00 masih disambut dengan udara dingin seger ala-ala Bandung gitu, langsung menuju ke rumah saudara ayah saya yang ada di jalan Sukahaji, agak daerah atas gitu deket Gegerkalong. Belum sempat masuk kos-kos an, kira-kira pukul 9 saya menuju ke Saraga ITB untuk melakukan pendaftaran ulang kedua bersama dengan lolosan SBMPTN. Kebetulan di fakultas saya sendiri ada dua teman saya dari SMA yang sama lolos melalui jalur SBMPTN kemarin dan keduanya merupakan FTI-G, jadi cuma bersama selama TPB (Tahap Persiapan Bersama).

Di SARAGA ITB sebenernya yang lolosan SNMPTN cuma arahnya ke verifikasi dokumen aja dan pengisian data-data tambahan, oh iya, penerimaan jamal (jaket almamater) juga yang bakal digunakan untuk sidang penerimaan pada tanggal 6 Agustus mendatang. Sehabis acara daftar ulang part 2 ini selesai, saya langsung menuju ke kos-kos an untuk merapihkan kamar dulu. Kos saya berada di Jl. Ciheulang, di bawahnya daerah Tubagus Ismail / Tubis, di atasnya daerah Sekeloa. Sehabis dari ngerapiin kos, saya kembali ke rumah saudara dan masih nginep dulu 2 malem di sini sambil nge-transfer in barang dan baju-baju ke kos wkwk..

1 Agustus 2018: IGNITION FTI 2018 ITB

Bangun kesiangan pukul 10 karena udara dingin, saya langsung beres-beres. Berhubung ada 2 agenda hari ini: Ignition FTI 2018, pindahan ke kos, ngambil motor. Jadi setelah beres-beres dan mandi, saya menuju ke kos menggunakan GrabCar berhubung barang bawaan banyak banget, langsung nata-nata barang dan pukul 1 menuju ke Maxi’s Resto untuk menghadiri Ignition FTI 2018. Acaranya overall seru banget! Sayangnya di tengah-tengah acara hujan dan acaranya udah dibuat bertipe outdoor. Hmm, sayang banget. Akhirnya harus memakai ruangan makan & cathering di samping yang agak minimalis untuk jumlah orang lebih dari 300 itu.

Setelah acara selesai, langsung menuju ke rumah di Jl. Sukahaji, niatnya sih mau ambil motor ke kos-kos an biar bisa mulai nginep kos malem ini. HUJAN. dan males banget sih buat nembus hujan, yaudah nginep 1 malem lagi di sini hehe.. :))

Perpisahan di Bali

Setelah seminggu ini enggak nulis, itu sebenarnya karena saya ikut Goes To (acara jalan-jalan bersama angkatan untuk merayakan kelulusan SMA) ke Bali. Di sini lah banyak hal berubah, cara pandang saya berubah.

Ternyata makna sebenarnya dari perpisahan adalah berdamai dengan masa lalu, itulah indikasi kita siap berpisah. Namun tetap saja, yang namanya perpisahan pasti berat juga.

Perjalanan menuju Bali

Saya berangkat menggunakan bus sampai ke pelabuhan, lalu menggunakan kapal untuk menyebrang menuju pulau Bali. Hal tersebut memakan waktu cukup lama (hampir seharian penuh), ya beda jauh sama pakai pesawat, budgetnya juga beda sih 😅.

Jujur saja ini bukan pertama kalinya saya ke Bali, saya sudah pernah 2 kali sebelum ini menginjakan kaki di tanah Bali. Namun ketika saya masih SMP dan dalam rangka liburan keluarga besar (bawa banyak anak kecil) jadi saya gak bisa datangi banyak destinasi, paling-paling sehari cuma satu destinasi. Berbeda dengan goes to kali ini, destinasinya banyak, ada kebersamaannya, dan yang menyedihkan ini adalah terakhir kali kami satu angkatan bersama-sama selengkap ini.

Continue reading

Pendidikan di Indonesia berat, tapi cari kerja juga berat?

(Ini bukan tulisan saya, di bawah ada creditnya, tapi menurut saya ini menarik dan penting jadi saya post 😊. Terimakasih untuk penulis aslinya, tulisan Anda sangat hebat)

Belajar di SMA di Indonesia, setahun libur cuma 7 minggu gak lebih.. Masuk jam 06.30 keluar jam 15.00. Mata pelajaran kurang lebih 16 untuk umum, 27 untuk pesantren. Ujian mulu sampe ujian final aja 4 kali. Apalagi ditambah pr-pr dan tugas yang seringkali bikin kita rasanya mau mati.

Nah, pas lulus, sujud syukur bgt deh bisa masuk ptn (just ptn, bukan UI ITB aja udh seneng bgt) gak kebayang masuk univ fovorit dunia kyk Harvard, Cambridge, MIT, London, Free Berlin, atau University of Tokyo.. Jangankan itu, masuk NUS Singapore atau Nanyang atau Universiti Malaysia aja pasti putus asa duluan deh. Itupun dapetin ptn susahnya minta ampun, mesti les sana sini dgn biaya jutaan, belajar mati-matian pergi pagi pulang malem udah kayak Bang Toyib (mending Bang Toyib pulang-pulang bawa duit). Sabtu pun belajar, minggu ngerjain PR. Sampe-sampe gak sadar mereka itu manusia atau robot.

Pas kerja, interview sana-sini gak dapet-dapet bahkan untuk beberapa lulusan UI, ITB, UGM, dan ptn-ptn lainnya. Sedangkan kalau orang bule yang ngelamar langsung cus deh. Mereka dengan mudahnya nempatin posisi2 teratas spt CEO, Kadiv, dll. Sementara kita, jadi manager atau supervisor aja udah syukur-syukur deh.. walau ada beberapa yang bakal jadi petinggi juga.

Pas baca koran dan browsing di internet, ternyata kita sadar yang punya perusahaan-perusahaan multinasional itu bukan orang Indonesia. Orang Indonesia paling-paling cuma jadi Direktur Regional Indonesia atau mujur-mujur bagian ASEAN. Gak jarang juga yang menduduki jabatan itu malah orang asing. Atau lebih mujur lagi yang diriin sendiri perusahaannya, tapi yang seperti ini paling juga sukses di Indonesia doang..

Pasti iri dong sama orang-orang asing dari Amrik, Jerman, Inggris, Jepang, Korea, dll..

Kok mereka bisa sukses sih? Kok bisa jadi adidaya? Padahal anak-anak Indonesia sering bulak-balik bawa medali olimpiade sains internasional. Padahal… (baca paragraf pertama sebagai perbandingan) saya punya temen dari Amerika, sekarang sudah jadi direktur perusahaan multinasional terkenal. Katanya..

Di SMA beliau dan SMA-SMA lainnya di Amrik, banyak liburnya.. setahun kurang lebih 5bulan.

Di SMA beliau dan SMA-SMA lainnya di Amrik, masuk jam 08.30 keluar jam 15.50.

Di SMA beliau dan SMA-SMA lainnya di Amrik, mapel hanya ada 7

Di SMA beliau dan SMA-SMA lainnya di Amrik, ujian final setahun cuma sekali. Gak pernah dia dapet ulangan tengah semester atau ulangan semester.

Kok bisa sih mereka semua jadi pemimpin-pemimpin dunia? Padahal di Indonesia, belajar sudah paling lama, mata pelajaran sudah paling lengkap, PR dan tugasnya sudah paling meribetkan, dan ujian sudah paling sering, Les pun sudah paling rajin.

Jawabannya ada pada sistem pendidikan dan diri kita sendiri.

Dulu saat TK dan SD kita semua lancar menjawab saat ditanya apa cita-cita kita. Tapi sekarang? Pasti kita jumpai banyak sekali remaja-remaja yang justru bingung akan cita-cita mereka bahkan tidak jarang bagi mereka yang pintar juga bingun atau ragu dengan cita-cita mereka. Apa sebabnya? Bisa jadi karena sistem pendidikan kita yang salah. Sistem kita menuntut kita untuk mempelajari semuanya namun tidak mendalami satu pun. Inilah yang membuat mereka yang mengejar nilai bingung akan cita-citanya karena sudah dibentuk sejak awal tidak mempunyai tujuan, sudah dibentuk tidak mendalami apa yang mereka cita-citakan.

Apa yg mereka dapatkan dari sekolah yaitu sukses hanya dengan sebuah kertas ujian and just reading your book to be success. Padahal kalau sudah kerja, biar sukses harus melakukan hal-hal kompleks spt kemampua berkomunikasi, kemampuan membentuk ide, dll.

Apa yg mereka dapatkan dari sekolah adalah materi yang akan mereka lupakan karena tidak terpakai saat mereka bekerja. Apakah seorang atlet sepakbola yg sukses perlu mempelajari strukur sel bakteri utk menjadi sukses? Apakah seorang dokter ahli bedah yg sukses perlu belajar menghitung percepatan setripetal agar menjadi sukses? Justru sebaliknya, mereka yang ingin sukses sebagai arsitek seharusnya lebih mendalami ilmu fisika dan bangunan, bukannya malah mendalami sebab revolusi Prancis, dll. Lah ini kok kita ingin bangun rumah kok dikasihnya malah pensil, penghapus, rautan atau istilahnya kita mau ngapain kok gadapet apa yg kita butuhkan malah dapetnya hal yang ga dibutuhi. Ya pasti dibuang.

Back to the topic, teman saya bilang yang membedakan SMA di Amrik dan di Indonesia yaitu sejak SMP, siswa/i di Amerika disuruh menentukan keputusannya sendiri. Dengan sistem moving class, istilahnya kita boleh memilih ingin masuk ke kelas Fisika atau Biologi pada jam ini. Atau ingin masuk ke kelas Sejarah atau Matematika pada jam selanjutnya. Jadi disesuaikan dengan minat bakat kita mau itu kita hanya masuk ke kelas Sejarah 1x pertemuan seminggu atau 3x atau lebih itu tergantung keputusan kita. Jadi apabila ingin jadi dokter yg sukses ya kita bisa ambil kelas biologi lebih sering dari kelas mata pelajaran lainnya. Sehingga, sejak SMP orang Amrik sudah terfokus pada bidang yang mereka inginkan untuk kerja di dalamnya. Dan saat kerja mereka sudah punya persiapan sejak kecil.

Maka dari itu ayo benahi sistem pendidikan kita dan mulailah fokus terhadap apa yang dicita-citakan mulai dari sekarang kalau kita semua mau Indonesia merdeka secara ekonomi!

Cr : Razaqa Dhafin