Memangnya Van Lith menjamin masa depan?

Tertanggal 16-18 Februari 2018 saya libur imlek dan wawancara finansial. Jadi kemarin itu udah pengumuman penerimaan peserta didik baru angkatan 28 SMA PL Van Lith. Selamat ya yang ketrima, yang nggak ketrima: don’t be sad, tetaplah bersyukur karena masih ada tempat lain. “Tapi kan di Van Lith ada iniii… itu… di sekolah lain kan gak ada kak? Van Lith juga katanya menjamin masa depan..”

Van Lith menjamin masa depan gak sih?

Pertanyaan yang cukup sering terdengar di telinga saya. Karena ini sedang libur wawancara finansial (WF) di mana orang tua peserta didik yang anaknya diterima sedang di wawancara untuk keperluan finansial di Van Lith nantinya. Maka saya angkat topik ini. Sebelum saya gubris, saya jawab dulu secara singkat dari pertanyaan “Van Lith menjamin masa depan gak sih”: TIDAK.

Jadi ceritanya ada anak (hm.. ga cuma 1 sih) yang dia itu merasa sedih karena tidak diterima di Van Lith, dia bilang kalau dirinya itu merasa down banget karena temen-temennya ada yang biasanya di bawah dia tapi gak diterima. Iya sih, jujur aja sampai sekarang saya sendiri gatau kriteria yang bener-bener tentang penerimaan peserta didik di Van Lith nih apa, poin utamanya apa juga kurang jelas. Yang pasti saya tiba-tiba diterima aja hehe.. 😆 dan opini menariknya adalah: biasanya yang gak pengen-pengen masuk Van Lith itu diterima, eh yang pengen dan ngincer sejak lama itu malah tidak diterima. Banyak rumor yang mengatakan begitu, sebenarnya ada benernya ada enggaknya sih. Enggaknya adalah: di angkatan saya aja ada kok yang sudah mengidam-idamkan Van Lith sejak lama (katanya sih sejak SD wkwk..). Jadi kesimpulannya gimana? Ya saya tetap nggak tahu proses penerimaannya gimana, karena hasil seleksi juga tidak transparan, tiba-tiba hasilnya ada aja. Dan please don’t ask us (panitia dari kakak kelas), karena kita sendiri cuma bertugas jadi panitia pelaksana bukan tim penyeleksi. Saya pribadi 2 tahun lalu jadi koordinator seksi tertulis (termasuk ke tahap 1 seleksi) tugasnya cuma mengawasi dan mengatur jalannya aja, plus nyatetin yang nyontek eheheh.. tapi daftar yang nyontek juga cuma saya kasih aja ke panitia penyeleksi (pendamping dan tim psikologi), gak tahu dipakainya untuk apa.

Tapi poinnya bukan itu sih yang mau saya omongin, yang mau saya omongin adalah: kesuksesan itu gak harus dari Van Lith, dan bukan cuma di Van Lith, dan Van Lith sendiri gak selalu mencetak kader sukses. Buat kalian yang Katolik masih banyak banget referensi SMA-SMA bagus di Indonesia khususnya pulau Jawa ini. Waktu itu saya juga berencana daftar ke Hua-Ind (Kolese Santo Yusuf) tapi karena sudah keterima di Van Lith jadi saya batal. Sepupu saya yang tidak diterima di Van Lith jadinya masuk sana, di sana bagus kok, sistemnya banyak anak-anak pendatang juga, mirip Van Lith, tapi ngekost, so kalian bakal lebih siap buat kuliah nantinya khususnya anak-anak perantau. Masih banyak juga sekolah-sekolah katolik kolese lainnya yang kualitasnya top lah. Kalau mau incer prestasi kalian bisa ambil negeri-negeri di Bandung dan Jogja, wah jos itu mah kualitasnya, ke PTN nya juga ga dipersulit ntar. O yaa, jangan lupa De Britto juga. Sekolah itu banyak juga mencetak orang-orang sukses. Tapi itu juga kalau pendaftarannya gak dibarengin sama Van Lith, soalnya beberapa tahun terakhir tanggal seleksinya kompakan sama Van Lith.

Kembali ke poin yang mau saya omongin: saya bener-bener pengen negasin kalau di mana sekolahmu tidaklah menentukan masa depanmu. Ini beneran 😡 . Tapi dirimu sendiri lah yang menentukan apakah kamu bakal sukses atau enggak. Tidak ada satu sekolahpun yang menjamin kesuksesan anaknya, tetapi mereka membeli bekal & lingkungan yang bisa mendukung peserta didiknya sebaik mungkin. Nah terkait lingkungan di Van Lith tuh menggunakan sistem asrama.. “Nah kak, berarti kan masuk Vanlith seenggaknya dah membawa kita satu langkah menuju kesuksesan karena tinggal di asrama jadi lebih mandiri?”

I don’t think so. Asrama itu bisa aja membawa kamu lebih dekat dengan kesuksesan tapi bisa juga membawa kamu lebih dekat dengan kehancuran hidup. Gimana maksudnya ntuh? Ada temen saya yang gara-gara dia tinggal di asrama hidupnya malah jadi kacau balau, ga bisa adaptasi sampai tahun-tahun kedua bahkan tahun terakhir, ga bisa bersosial, hidupnya menyendiri, alhasil nilai akademisnya juga bobrok gara-gara dia ga merasa punya ‘rumah’ untuk tidur. Ujung-ujungnya? Ya kalau nggak keluar di tengah, mungkin lulus dengan sebuah penyesalan berat di hidupnya karena hidupnya bakal jadi lebih baik kalau dia tidak tinggal di asrama, which is asrama menghancurkan kehidupan dia yang mungkin lebih terjamin di luar asrama.

Masih terkait tentang asrama, saya pernah punya teman cowo, sempat satu unit. Orangnya pinter? Iya. Nilainya bagus? Iya. Sosialnya? Oke banget, dia punya banyak temen, digemari aspi-aspi juga karena dia orangnya have fun banget. Tapi di akhir tahun pertama dia terpaksa harus meninggalkan kami angkatan 25 karena kasus di asrama, yaitu mencuri. Wah sepele banget gak sih? Gak juga sih. Entah saya gak tau dia kleptomania atau gimana tapi dia udah melakukan perbuatan itu sejak lama dan banyak dari kami yang tahu sebenernya tapi diem aja. Sampai akhirnya dia ketangkep pamong dan pihak sekolah memutuskan buat ngeluarin dia karena ketika dikalkulasi curiannya dia udah sekitar 2jt an (konfirmasinya sih gitu dari pihak asrama dan sekolah) :O .. Padahal dia termasuk anak yang berkecukupan di antara kami, ya bisa terbukti dari barang-barangnya yang bermerk. Ini adalah bukti nyata, di mana seorang anak yang harus mengalami 1 tahun di Van Lith yang mana itu buang-buang waktu. Dia bisa masuk ke sekolah yang lebih baik dan gak berasrama. Sekarang dia udah terlanjur punya ‘cap’ buruk. Yang salah siapa? dia? asrama? Menurut saya yang salah adalah ketidaksesuaian antara sistem di sini dan gaya hidupnya dia. Dia punya kebiasaan yang buruk dan ketika hidup berasrama ya dia gak bisa untuk menyesuaikan diri, tapi mungkin di dunia nyata dia bisa jadi orang sukses dan kaya.

Jadi simpulannya adalah Van Lith gak bisa menjamin masa depan seseorang, tetapi Van Lith memberi bekal untuk meraih masa depan seseorang. Yang manakala hal itu gak cuma bisa didapatkan di Van Lith, tapi di banyak tempat, di mana aja pasti ada jalan. Dan for your information yhaa Van Lith juga bukan yang terbaik, apalagi tahun-tahun terakhir ini saya pribadi merasa Van Lith sudah berbeda dengan yang dulu, sistemnya sudah berubah karena fokusnya memang sudah beda.

So.. buat kalian yang tidak diterima di sini, jangan jadikan ini sebagai suatu kegagalan. Bersyukurlah mungkin kamu tidak diterima di sini karena ada tempat yang lebih baik buat kamu, ada jalan menuju kesuksesanmu yang bukan dari sini. Kalau kata pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’. Keep fightin’ for your life and never stop when you fail!

Note : artikel ini bukan bermaksud menjelek-jelekan SMA Van Lith apalagi membuka aib. Tapi saya ingin menunjukan kepada mereka yang tidak diterima bahwa mereka masih punya kesuksesan di tempat lain.

Leave a Reply