Throwback – Rhapsody #1

Saya bingung mau nulis apa karena akhir-akhir ini lagi ga ada kejadian menarik, cuma menjalani ujian praktik yang sangat membosankan. Jadi saya memilih untuk throwback aja, saya mau cerita tentang awal mula Rhapsody, bener-bener dari awal.

Rhapsody?

Rhapsody itu grup musik, tepatnya grup musikalisasi puisi kesayangan saya, di mana orang-orangnya juga enak banget buat diajak berpetualang bersama nyari lomba. Saya bersyukur banget bisa pernah ketemu mereka dalam Rhapsody ini karena banyak banget pengalaman berharga yang saya dapet dari Rhapsody sendiri.

Berawal dari kebosanan saya menjalani kehidupan asrama di kelas 2 awal karena saya hanya mengulang hal yang sama di kelas 1 (mungkin juga karena saya udah terlalu kebanyakan kegiatan di kelas 1), jadi saya memutuskan untuk mencari lomba. Alasan lainnya adalah karena di kelas 1 saya menjabat di OSIS sebagai Komisi Media dan Seni (Dewan Anggota) yang tugasnya itu nyariin lomba buat anak-anak, jadi saya juga tertarik buat ikut lomba kan tuh. Namun saya juga mikir, mau ikut lomba apa, kalau mau menang lomba kan harus unggul. Saya pun mulai meneliti apa keunggulan diri saya.. musik? ya bagus tapi biasa aja, banyak yang lebih bagus. debat? belum levelnya lomba deh. nulis? apa lagi.

Di tengah kebingungan saya, dateng temen saya namanya Edo ngajakin buat ikut lomba muspus. Muspus? apaan tuh? adalah respon pertama saya saat diajak. Setelah saya cari-cari saya paham ternyata muspus itu musikalisasi puisi. Eh buset, musikalisasi puisi ala-ala pelajaran bahasa Indonesia gitu kan, yang orang baca puisi terus diiringi gitar dengan chord sedih diulang-ulang. Cuma sebatas itu pengetahuan saya saat itu. Saya belum berfikir tentang potensi menang lomba di bidang musikalisasi puisi ini. Tapi yaudah lah coba aja.. :’)

Nge-rekrut orang

Awalnya kan cuma saya dan Edo berdua aja tuh, jadi saya harus mencari orang lagi untuk melengkapi komposisi musik ini. Saya kebetulan waktu itu join grup akustikan gitu namanya Hacep. So, saya ga perlu muter-muter nyari orang buat grup ini, saya tarik aja beberapa anak dari grup Hacep ini. Terkumpulah 6 orang: saya, Edo, Rania, Tasia, Tije, Ence. Lomba pertama yang kami ambil adalah Lomba Musikalisasi Puisi di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, karena lokasinya juga ga jauh dari sekolah kami. Lomba ini kategorinya umum, tingkatnya nasional. Jos banget yah wkwk.. pertama kali lomba langsung umum nasional. Oya untuk susunan alat musiknya: Tasia (Vokal), Edo (Gitar 1), Rania (Gitar 2), Tije (Biola), Ence (Cajoon), dan saya sendiri keyboard/piano.

Persiapan

Mulai nyiapin lomba kan tuh, kami bingung mau mulai dari mana. Kebetulan Edo ini punya pengalaman ikut lomba musikalisasi puisi juga tapi ga menang, at least dia tahu cara menangin lomba musikalisasi puisi. Jadi berdasar pemahaman Edo, kami pun memutuskan untuk mencari guru musik yang bersedia membantu kami untuk membuat aransemen. Kebetulan saya punya kontak guru musik di SMP saya namanya Eclesia de Fretes. Beliau adalah seorang yang sangat berbakat dalam hal musik dan asik banget orangnya, guru favorit saya waktu di SMP lah pokoknya (ya iya pelajarannya paling selow). Hal ini dipermudah dengan saya dan Rania sebagai alumni SMP dari tempat guru saya mengajar ini. Saya kontak gurunya, dia mau, oke sip.

Kami mulai untuk persiapin aransemen, tiap liburan pulang ke rumah, saya nyempetin waktu ketemu Mas Eken (ini panggilannya) untuk bikin aransemen muspusnya. Puisi yang kami pilih adalah Sajak Putih milik Chairil Anwar, salah satu puisi yang melegenda di masa lampau Indonesia. Puisi ini bercerita tentang cinta seorang pria kepada wanita, namun keduanya tidak ada yang berani mengungkapkan, hanya memendamnya dan berharap satu sama lain saling menyukai. Pokoknya tiap kata-kata di puisi ini dalem banget maknanya. Kami milih puisi milik Chairil Anwar juga karena persyaratan dari pihak panitia lomba. Untuk analisis puisinya bisa dicari di Google karena saya sendiri bukan orang sastra yang pandai mengartikan puisi.

Dalam waktu kurang lebih 1 bulan, setelah melalui berbagai perubahan, aransemen musik kami pun jadi dan tinggal diterapkan. Kami pun mulai persiapan dan latian secara rutin (kira-kira seminggu 3 kali). Saya masih inget banget, di tengah-tengah latian banyak banget pro-kontra tentang musiknya dari kami masing-masing. Karena banyak dari kami yang ngotot-an dan selera yang berbeda-beda. Tapi menurut saya, dari situlah kami bisa bersatu membuat musik yang indah. Dalam proses latian ini kami juga dibantu Pak Satrio (guru bahasa Indonesia di SMA saya) untuk hal pendalaman makna puisi dan sajaknya.

Technical Meeting

Seminggu sebelum lomba kami diundang ke UGM untuk mengikuti technical meeting (TM), gak semua dari kami ikut TM, hanya saya, Tasia, dan Tije yang ikut TM. Yang lainnya ke toko-toko musik di Jogja buat nyari kelengkapan alat buat lomba minggu depan. Saat dateng ke TM ini saya sudah melihat persaingan yang ketat, grup yang daftar lebih dari 20 (kalau gak salah ada 25 an). Dan parahnya, banyak yang dateng dari sanggar seni, universitas seni, dan SMA-SMA yang seninya terkenal jos. Kami pun sempat pesimis, gimana enggak? Ini pertama kalinya kami ikut lomba muspus dan langsung bersaing secara besar gini. Apalagi setelah saya iseng-iseng cari informasi siapa juara tahun sebelumnya, kami mengetahui kalau juara tahun sebelumnya dari universitas dan tahun ini mereka ikut lagi. Makin pesimis deh saya wkwk..

Pengalaman yang gak akan pernah saya lupa adalah saat balik dari UGM, kami naik go-car di tengah ujan yang deres banget. Kami sempet mampir untuk makan bakso dulu yang cukup terkenal di Jogja (saya lupa namanya..) baru balik ke asrama. Nah, pas udah sampe asrama ini, Edo kepleset di depan pos satpam sekolah karena ujan yang deres banget dan lantainya licin semua. Spontan pertama kali saya ketawa karena emang lucu, eh setelah saya deketin, syit darah di mana-mana, gigi depannya pecah (bukan lepas, dari pecah), yang berarti benturannya keras banget. Edo pun langsung dibawa ke rumah sakit, ditemenin Ence. Saya balik asrama karena harus ngurus izin ke pamong dan ngasih tau kejadian yang dialami Edo. Jujur saya panik karena minggu depannya itu lomba dan saya takut Edo berhalangan ikut. Apalagi setelah saya dikasih tau kalau dia langsung dibawa pulang ke Semarang (asalnya dia dari sana) buat menjalani perawatan dan ada yang dijahit.

Lanjutannya ada di Throwback – Rhapsody #2 .

 

2 thoughts on “Throwback – Rhapsody #1

Leave a Reply