Throwback – Adaptasi (OASE)

Di sela kelas 3 ini saya mau mengkilas balik tentang kisah saya pertama kali di SMA Pangudi Luhur Van Lith. Jujur saja, SMA ini saya bilang unik dan berbeda dari SMA pada biasanya karena sistem pendidikan karakternya yang cukup tegas. Sebelum saya masuk SMA ini saja, kabar-kabar tentang betapa kerasnya pendidikan di sekolah ini sudah simpang siur ke mana-mana. Terkhusus lagi, kakak kandung saya juga merupakan alumni di sekolah ini. Namun jujur saja, hal itulah yang membuat saya tertarik untuk masuk ke sini, saya ingin ‘masa SMA’ yang berbeda dari biasanya. Prinsip saya waktu itu adalah nekat-nekat saja.

Masuk pertama kali di SMA PL Van Lith, saya disambut dengan kegiatan orientasi asrama dan sekolah, kerap disebut OASE (Orientasi Asrama dan Sekolah). Saat itu saya masuk sebagai angkatan 25 (sebenarnya sekolah sendiri sudah berdiri sangat lama karena bekas sekolah guru saat jaman Belanda dulu), kegiatan orientasi saya dipandu oleh kakak kelas dari angkatan 23 dan 24. OASE? Seram? Iya banget. Ternyata sistemnya lebih keras dari yang saya duga. Pertama masuk saja sudah langsung dibentak-bentak, diberi konsekuensi, dimarah-marahi, dan selalu saja dicari kesalahannya. Saya benar-benar ingat waktu itu konsekuensi push-up yang saya sudah lakukan dalam 5 hari mungkin lebih dari 300x. Setiap saya atau teman saya berbuat kesalahan kecil seperti tidak menyapa, sudah harus menerima konsekuensi. Bahkan, makan saja ada waktunya, sekitaran 7 menit dan harus habis. Apabila tidak habis, maka akan ada konsekuensi. Saat makan tetap ada aturannya, seperti tidak boleh menimbulkan bunyi dari peralatan makan, tidak boleh berdiri sambil mengunyah, tidak boleh berbicara, dan masih banyak lagi. Kami punya tanggungjawab agar satu angkatan kami bisa menghabiskan makanan yang disediakan, maka kami saling membantu menghabiskan makanan tanpa memikirkan kenyang atau tidak, bersih atau tidak, enak atau tidak, yang penting habis.

Tidak hanya aturan makan, aturan mandi juga ada. Ada namanya kelompok kecil dengan julukan ‘keluarga kecil’ yang digunakan tiap-tiap sesi/kegiatan. Saat kami mandi menggunakan satu kamar mandi dan harus mengantri dengan dibatasi waktu, waktu yang dialokasikan untuk per orangnya kira-kira sekitar 2-3 menit. Suatu hal yang memang tidak mungkin dalam kehidupan nyata, mungkin sih.. mandi bebek. Lalu yang saya masih ingat juga ada ‘langkah hantu’ di mana kami harus berkegiatan dimanapun tanpa menggunakan alas kaki apapun, lalu berlari dengan menjinjit agar tidak menimbulkan bunyi, dan harus berlari, tidak boleh berjalan. Mungkin bagi yang tidak biasa seperti saya, hari-hari itu terasa seperti saya masuk neraka. Yah, seenggaknya saya sudah merasakan yang terburuk. 

Untuk makanan, minuman, bahkan snack semuanya sudah diatur. Minum tidak bisa sembarang minum, di waktu 30 detik dan disediakan 2 tangki untuk 180 orang. Gelasnya? Kalau tidak salah gak sampai 10 gelas. Yang pasti ga semua bakal kebagian, saya masih ingat saya melakukan hal konyol saat itu yaitu meminum air kamar mandi saking hausnya tenggorokan saya karena kekurangan minum. Lalu ada juga sistem password, di mana kalau saya mau buang air kecil, buang air besar, snack, makan, dll harus menyanyikan dulu lagu yang diulang-ulang sebagai sarana memohon izin.

Di luar itu sebenarnya masih banyak lagi aturan-aturan OASE saat itu yang mungkin kalau saya ceritakan detilnya satu-satu bisa sangat banyak dan malah menimbulkan kontroversi. Karena pada saat ini, sistem seperti itu tidak diperbolehkan lagi di Indonesia. Saat saya kelas 2 saya menjadi bagian dari panitia OASE dan sistem masih sama. Namun saat saya kelas 3, sistem sudah diubah karena sekolah kami mendapatkan peringatan dari pemerintah pusat, sehingga saya memutuskan untuk tidak menjadi panitia OASE lagi.

Sebenarnya bukan detil dari OASE sendiri yang ingin saya bahas, namun manfaat dari kegiatan itu sekarang. Di sudut pandang beberapa orang, hal-hal di atas merupakan hal-hal yang sebenarnya tidak manusiawi. Iya, benar, bayangkan saja kalau hal tersebut dilakukan dalam jangka waktu panjang, mungkin sudah mendekati sistem pendidikan militer. Banyak orang bertanya, “Memangnya gunanya apa sih makan 7 menit? Toh ntar juga realitanya makan setengah jam, sambil ngobrol-ngobrol..” , “Memang gunanya apa mau pipis pake password? Memangnya di kehidupan nyata kalau mau pipis harus password dulu??”, bagi orang-orang yang tidak tahu maknanya, yo berat sih buat jawab itu.

Sebenarnya bukan ‘aturan’ yang ingin disampaikan (saya pribadi tahun depannya menjadi panitia OASE dan ikut mempertimbangkan aturan tersebut). Melainkan ‘pesan’ dari aturan itu.. melalui sebuah password untuk pipis, manusia belajar bahwa mendapatkan sesuatu itu tidak selalu mudah, butuh usaha. Ketika kita diminta melakukan konsekuensi sesuai kesadaran kita sendiri dan kita sendiri yang menentukan jumlah dari konsekuensi itu, kita belajar untuk mengaku bersalah dan menebus kesalahan. Apakah kita suatu hal yang seluruhnya salah?

Inilah salah satu ‘adaptasi’ yang saya alami, yaitu OASE.

Leave a Reply