Self-discovery: Introvert.

Self-discovery: the process of acquiring insight into one’s own character.

Melihat satu tahun ke belakang, aku banyak mengalami kejadian yang cenderung membantu aku untuk lebih mengenal siapa aku. Selama ini aku sudah banyak sekali mengikuti seminar-seminar bertajuk “Who am I?”, namun semua itu rasanya basi dan kurang membantu aku menemukan siapa diriku. Karena aku percaya, melalui sebuah kejadian yang benar-benar terjadi dalam hidup kita,  bukan sekedar mengikuti seminar, kita bisa mengenal siapa diri kita. Aku percaya begitu karena memang aku tahu bahwa tiap orang memiliki pengertian dan potensi yang berbeda-beda, yang terkadang harus kita temukan melalui pengalaman.

Di post kali ini aku akan cerita tentang pengalamanku mengenal karakter introvert dalam diriku. Ya, aku mengklaim bahwa diriku seorang introvert bukan hanya sekedar melalui post tebak psikologi di instagram ataupun sosmed lainnya, tapi benar-benar melalui pengalaman yang aku rasakan secara pribadi.

One thing to define before we talk about ‘introvert’ is INTROVERT and ANTI SOCIAL is actually EXTREMELY DIFFERENT.

Memang terkadang kita menemukan seorang introvert berkepribadian anti social, ataupun sebaliknya. Tapi sejujurnya introvert dan anti social adalah dua hal yang berbeda. Dengan catatan, seorang introvert bisa berujung ke anti social apabila gagal mengontrol dirinya dengan baik. In my opinion, an introvert should know that he is an introvert as early as possible, before things get worst. Aku berkata itu dari pengalaman pribadi aku sendiri.

a strange feeling.

Di masa SMA, aku memutuskan untuk tinggal di sekolah berasrama (SMA Pangudi Luhur VAN LITH). Tinggal di asrama seperti memiliki kehidupan yang jarang sekali orang rasakan. Dua puluh empat jam bersama teman, dimulai saat kamu bangun tidur, sarapan, sekolah, makan, bermain, berolahraga, belajar, dan banyak hal lainnya. Awalnya aku tidak merasakan masalah apapun, namun setelah menjalani 1 tahun kehidupan berasrama dengan hari-hari yang padat bersama teman-teman, aku mulai mengalami stres tak beralasan. U know, ketika hidup tidak sedang ada masalah, semua hal berjalan lancar, tapi rasanya pikiran kamu jenuh terus, fisik lemas, dan tidak ada semangat, as if every energy from your soul is gone. In that point, I suffered a ‘strange’ feeling in my mind. Di SMA, aku cukup senang untuk belajar di luar jam studi (tengah malam misalnya), agar tidak mengganggu teman yang lain aku sering memutuskan untuk studi di area yang kurang terjangkau orang lain seperti halaman sekolah atau aula sekolah (karena kami tinggal di asrama samping sekolah). Ketika teman-teman takut untuk pergi ke tempat sepi sendirian dengan alasan ‘angker’, entah kenapa tubuhku membawa aku untuk mencari kesepian. “Oh, mungkin butuh tempat belajar yang tenang”, pikirku awalnya.

Namun, perasaan aneh itu tidak kunjung hilang. Aku tetap saja mengalami tekanan yang seharusnya tidak ada. Aku mulai merasa bahwa diriku aneh. Ini adalah titik di mana sisi introvert dalam diri aku mulai bergejolak namun aku belum mengenal diriku sebagai seorang introvert. Semua perasaan itu tertimbun hingga aku melakukan hal-hal aneh seperti I locked myself in a toilet for 4-5 hours with a bottle of water (to keep myself hydrated). I know it sounds weird, tapi saat itu aku merasakan hal itu seperti ada sesuatu yang terisi dalam diriku. But that is okay, it’s just the problem in me. The worst problem is when the ‘introvert’ in me drag myself to become an anti social. And yes, I do know that it sounds weird tho, sehingga aku memutuskan untuk melakukan sedikit riset terkait gejala yang kualami pada psikologisku ini.

Oh, it’s just ‘introvert’ things.

Setelah mencari berbagai artikel di internet dan buku, serta membaca pengalaman orang-orang terkenal terkait menjadi seorang introvert, aku mulai bisa memahami sisi introvert dalam diriku. Kalau boleh mengutip dari buku ‘Dear Tomorrow’ Maudy Ayunda, “At the end of the day, I love having my own space. I guess that’s just the introvert in me: I get my energy from small-group conversation and from spending time on my own. You know that moment when you get finally can tune everything out from your head? Yup, that’s my version of heaven on earth.” Yup, introvert gain their energy by being away from others.

Anti social? Is it?

This is how wikipedia defines it: Anti-social behaviour refers to actions that harm or lack consideration for the well-being of others. AND A BIG YES, being an anti social IS COMPLETELY DIFFERENT with being an introvert. Aku sebagai seorang introvert hanya sekedar membutuhkan energi untuk ‘spending my time on my own’ sekedar 1-2 kali dalam seminggu. Saat masih berada di asrama, aku mencoba untuk memanfaatkan waktu eksplor panjang (5-6 jam) untuk ‘kabur’ ke tempat yang susah dijangkau temanku yang lainnya, hanya sekedar untuk menghabiskan waktu sendiri dan mengisi energi kembali. Entah kenapa terlalu lama berada di sosial membuat psikologisku lelah. Saat itu aku membiasakan diriku untuk pergi ke mall/cafe (yes it’s crowded but I just don’t know everyone there) di hari minggu, duduk dengan secangkir kopi atau minuman, dan merenungi hal-hal yang menjadi masa lampau dan memikirkan masa depan. AS SIMPLE AS THAT. Setelah itu aku pulang ke asrama dan bergaul seperti biasanya.

Aku berani mengklaim bahwa aku bukanlah seorang yang anti social. Aku suka berbicara di depan umum (public speaking), berdebat/berargumen, berorganisasi dan berkenalan dengan banyak orang. Di luar waktu-waktu introvertku, hidupku normal-normal saja.

DO I NEED to feel ‘different’ by claiming myself as an introvert?

Yes, in a positive way! Semenjak menyadari bahwa diriku seorang introvert dan berhasil menangani diriku sendiri, aku semakin handal untuk menghadapi masalah-masalah yang terkadang berat bagi orang lain. Saat aku merasa mulai capek dengan rutinitas, aku tahu aku harus berbuat apa untuk mengisi kembali energi yang hilang. Aku bangga menjadi seorang introvert, dan aku ungkapkan hal tersebut kepada banyak temanku, bahkan interviewer di beberapa organisasi dan beasiswa. Kalau kalian tertarik untuk riset tentang introvert lebih dalam, kalian akan menemukan bahwa banyak orang hebat baik di dunia internasional ataupun di Indonesia merupakan seorang introvert, bahkan host tv yang mana harus tampil publik setiap hari; Albert Einstein, Bill Gates, JK Rowling, Warren Buffett, Mahatma Gandhi, Michael Jordan, Elon Musk, Selena Gomez, Emma Watson, Lady Gaga, Zayn Malik, Barack Obama,  Raditya Dika, Boy William, Maudy Ayunda, dan masih banyak lagi. Seorang introvert tahu kapan harus memulai dan tahu kapan harus berhenti.

Seorang introvert jelas memiliki waktu luang untuk berbicara dengan dirinya sendiri dan merenungkan tindakan-tindakannya. Seorang introvert mempersiapkan segalanya, karena dia tahu bahwa spontanitasnya tidak sebaik yang lain, itulah mengapa seorang introvert terkesan lebih ‘well-prepared’. Seorang introvert adalah pemikir yang keras, itulah kenapa mereka sangat baik dalam pengambilan keputusan. Penilai dan berkreativitas tinggi, mandiri, serius dalam memandang hidup, tidak mudah terbawa emosi adalah sikap-sikap yang cenderung muncul dalam kepribadian seorang introvert.

Aku tahu bahwa kita tidak bisa serta merta mengklaim bahwa diri kita atau pun seseorang merupakan seorang introvert. Terkadang sisi introvert ada dalam diri orang namun hanya belum muncul saja. Banyak artis yang mengklaim bahwa dirinya seorang introvert setelah terlalu banyak mengalami kehidupan sosial yang membawa mereka ke titik jenuh. Melalui kejadian-kejadian lah kita mengenal diri kita lebih dalam.

after i realized about ‘the introvert’ side in me

Setelah lulus SMA, kehidupan seperti jendela yang baru saja dibuka. Banyak keputusan yang bisa kuambil sendiri. Kehidupan kuliah khususnya tahun pertama di ITB menjadi hal yang berat bagi banyak orang, termasuk diriku. Namun di kehidupan yang lebih bebas ini juga aku semakin mengayomi sisi introvert dalam diriku, aku tahu kapan batinku meminta untuk sendiri. Dalam seminggu aku pasti menghabiskan waktu untuk sekedar duduk di cafe with my laptop and a cup of coffee minimal sekali. Selain belajar dan merenung, hal yang biasa kulakukan saat menyendiri adalah menulis (blog). Terkadang waktu sendiri itu bisa diisi dengan sesuatu yang lebih produktif misalnya mengerjakan tugas mandiri ataupun berolahraga (gym) sambil mendengarkan musik.

conclusion

Mengenal diri sendiri itu penting. Apalagi bila kamu merasa memiliki sisi introvert dalam diri kamu, jangan pernah dihindari, jangan malu menjadi seorang introvert. Justru ketika kamu menolak rasa itu, semakin buruk rasa itu akan membawa kamu. Kilas balik saat SMA aku sempat terbawa ke ranah anti social hanya karena tidak mengenal dan mengakui sisi introvert dalam diriku. Namun setelah mengenal dan mencoba mengayomi sisi tersebut, sisi introvert itu menjadi sesuatu yang baik dan bahkan aku bisa bilang ‘keunggulan’ dari diriku. Introvert ibarat sebuah pisau, bisa menjadi sesuatu yang sangat berbahaya, namun apabila dikontrol dan digunakan dengan baik sesuai kondisinya, dapat menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat.

Leave a Reply