Pengalaman Ujian Masuk NTU Singapore dan Diterima di Nanyang Business School, NTU!

Berawal dari keisengan saya untuk masukin nilai UN dan rapot ke pendaftaran NTU pada Desember lalu, saya dinyatakan shortlisted sebagai kandidat untuk mengikuti tes University Entrance Examination (UEE) di Jakarta pada akhir Januari. Sebenarnya ini sekedar saran dari keluarga untuk mencoba apply, saya sendiri semacam nggak begitu ingin dan tidak berharap banyak terhadap pendaftaran ini karena sadar akan kemampuan diri dan persiapan saya yang jauh dibawah mereka yang sudah mempersiapkan tes ini berbulan-bulan dalam bentuk bimbel atau mandiri.

Pada awalnya, saya sendiri tidak menduga bakal di shortlist sebagai peserta UEE karena dalam sejarah saya belum pernah terdengar lulusan dari SMA saya yang masuk ke salah satu PTN favorit di Singapore yaitu NTU. Pernah sih ada gosipnya kalau angkatan 5 (which is 20 tahun lalu wkwk..) pernah gitu ada yang masuk NTU, saya sendiri kurang tahu kebenarannya.

Continue reading

Pengalaman seleksi SEA Undergraduate Scholarships

Yup! Prinsip saya adalah berbagi pengalaman yang menurut saya bisa berguna untuk orang lain. Kali ini saya akan berbagi cerita saya dari awal saya mengenal beasiswa SEA Undergraduate Scholarships , proses seleksi, hingga pada akhirnya saya terpilih menjadi salah satu dari 10 scholar dari ITB.

Image result for SEA undergraduate scholarship

Intro singkat aja, jadi SEA Undergraduate Scholarship merupakan beasiswa yang dianugerahkan oleh perusahaan yang terpusat di Singapore, Asia antara lain Shopee, Garena, dan Airpay. Untuk informasi lebih lanjut terkait pemberi beasiswa bisa kalian search di google ya, karena fokus saya di post ini lebih ke berbagi informasi dan tips proses seleksi. Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa baru yang baru aja masuk tahun ini (2018) ke universitas/institusi yang telah mereka pilih. Jadi ada 5 universitas/institusi  yang mereka pilih tahun ini: UI, ITB, ITS, UGM, dan BINUS. Tiap univ bakal diambil 10 orang, jadi total scholar tahun ini adalah 50 orang.

Continue reading

Perpisahan di Bali

Setelah seminggu ini enggak nulis, itu sebenarnya karena saya ikut Goes To (acara jalan-jalan bersama angkatan untuk merayakan kelulusan SMA) ke Bali. Di sini lah banyak hal berubah, cara pandang saya berubah.

Ternyata makna sebenarnya dari perpisahan adalah berdamai dengan masa lalu, itulah indikasi kita siap berpisah. Namun tetap saja, yang namanya perpisahan pasti berat juga.

Perjalanan menuju Bali

Saya berangkat menggunakan bus sampai ke pelabuhan, lalu menggunakan kapal untuk menyebrang menuju pulau Bali. Hal tersebut memakan waktu cukup lama (hampir seharian penuh), ya beda jauh sama pakai pesawat, budgetnya juga beda sih 😅.

Jujur saja ini bukan pertama kalinya saya ke Bali, saya sudah pernah 2 kali sebelum ini menginjakan kaki di tanah Bali. Namun ketika saya masih SMP dan dalam rangka liburan keluarga besar (bawa banyak anak kecil) jadi saya gak bisa datangi banyak destinasi, paling-paling sehari cuma satu destinasi. Berbeda dengan goes to kali ini, destinasinya banyak, ada kebersamaannya, dan yang menyedihkan ini adalah terakhir kali kami satu angkatan bersama-sama selengkap ini.

Continue reading

Throwback – Adaptasi (OASE)

Di sela kelas 3 ini saya mau mengkilas balik tentang kisah saya pertama kali di SMA Pangudi Luhur Van Lith. Jujur saja, SMA ini saya bilang unik dan berbeda dari SMA pada biasanya karena sistem pendidikan karakternya yang cukup tegas. Sebelum saya masuk SMA ini saja, kabar-kabar tentang betapa kerasnya pendidikan di sekolah ini sudah simpang siur ke mana-mana. Terkhusus lagi, kakak kandung saya juga merupakan alumni di sekolah ini. Namun jujur saja, hal itulah yang membuat saya tertarik untuk masuk ke sini, saya ingin ‘masa SMA’ yang berbeda dari biasanya. Prinsip saya waktu itu adalah nekat-nekat saja.

Masuk pertama kali di SMA PL Van Lith, saya disambut dengan kegiatan orientasi asrama dan sekolah, kerap disebut OASE (Orientasi Asrama dan Sekolah). Saat itu saya masuk sebagai angkatan 25 (sebenarnya sekolah sendiri sudah berdiri sangat lama karena bekas sekolah guru saat jaman Belanda dulu), kegiatan orientasi saya dipandu oleh kakak kelas dari angkatan 23 dan 24. OASE? Seram? Iya banget. Ternyata sistemnya lebih keras dari yang saya duga. Pertama masuk saja sudah langsung dibentak-bentak, diberi konsekuensi, dimarah-marahi, dan selalu saja dicari kesalahannya. Saya benar-benar ingat waktu itu konsekuensi push-up yang saya sudah lakukan dalam 5 hari mungkin lebih dari 300x. Setiap saya atau teman saya berbuat kesalahan kecil seperti tidak menyapa, sudah harus menerima konsekuensi. Bahkan, makan saja ada waktunya, sekitaran 7 menit dan harus habis. Apabila tidak habis, maka akan ada konsekuensi. Saat makan tetap ada aturannya, seperti tidak boleh menimbulkan bunyi dari peralatan makan, tidak boleh berdiri sambil mengunyah, tidak boleh berbicara, dan masih banyak lagi. Kami punya tanggungjawab agar satu angkatan kami bisa menghabiskan makanan yang disediakan, maka kami saling membantu menghabiskan makanan tanpa memikirkan kenyang atau tidak, bersih atau tidak, enak atau tidak, yang penting habis. Continue reading

Memangnya Van Lith menjamin masa depan?

Tertanggal 16-18 Februari 2018 saya libur imlek dan wawancara finansial. Jadi kemarin itu udah pengumuman penerimaan peserta didik baru angkatan 28 SMA PL Van Lith. Selamat ya yang ketrima, yang nggak ketrima: don’t be sad, tetaplah bersyukur karena masih ada tempat lain. “Tapi kan di Van Lith ada iniii… itu… di sekolah lain kan gak ada kak? Van Lith juga katanya menjamin masa depan..”

Van Lith menjamin masa depan gak sih?

Pertanyaan yang cukup sering terdengar di telinga saya. Karena ini sedang libur wawancara finansial (WF) di mana orang tua peserta didik yang anaknya diterima sedang di wawancara untuk keperluan finansial di Van Lith nantinya. Maka saya angkat topik ini. Sebelum saya gubris, saya jawab dulu secara singkat dari pertanyaan “Van Lith menjamin masa depan gak sih”: TIDAK.

Jadi ceritanya ada anak (hm.. ga cuma 1 sih) yang dia itu merasa sedih karena tidak diterima di Van Lith, dia bilang kalau dirinya itu merasa down banget karena temen-temennya ada yang biasanya di bawah dia tapi gak diterima. Iya sih, jujur aja sampai sekarang saya sendiri gatau kriteria yang bener-bener tentang penerimaan peserta didik di Van Lith nih apa, poin utamanya apa juga kurang jelas. Yang pasti saya tiba-tiba diterima aja hehe.. 😆 dan opini menariknya adalah: biasanya yang gak pengen-pengen masuk Van Lith itu diterima, eh yang pengen dan ngincer sejak lama itu malah tidak diterima. Banyak rumor yang mengatakan begitu, sebenarnya ada benernya ada enggaknya sih. Enggaknya adalah: di angkatan saya aja ada kok yang sudah mengidam-idamkan Van Lith sejak lama (katanya sih sejak SD wkwk..). Jadi kesimpulannya gimana? Ya saya tetap nggak tahu proses penerimaannya gimana, karena hasil seleksi juga tidak transparan, tiba-tiba hasilnya ada aja. Dan please don’t ask us (panitia dari kakak kelas), karena kita sendiri cuma bertugas jadi panitia pelaksana bukan tim penyeleksi. Saya pribadi 2 tahun lalu jadi koordinator seksi tertulis (termasuk ke tahap 1 seleksi) tugasnya cuma mengawasi dan mengatur jalannya aja, plus nyatetin yang nyontek eheheh.. tapi daftar yang nyontek juga cuma saya kasih aja ke panitia penyeleksi (pendamping dan tim psikologi), gak tahu dipakainya untuk apa.

Tapi poinnya bukan itu sih yang mau saya omongin, yang mau saya omongin adalah: kesuksesan itu gak harus dari Van Lith, dan bukan cuma di Van Lith, dan Van Lith sendiri gak selalu mencetak kader sukses. Buat kalian yang Katolik masih banyak banget referensi SMA-SMA bagus di Indonesia khususnya pulau Jawa ini. Waktu itu saya juga berencana daftar ke Hua-Ind (Kolese Santo Yusuf) tapi karena sudah keterima di Van Lith jadi saya batal. Sepupu saya yang tidak diterima di Van Lith jadinya masuk sana, di sana bagus kok, sistemnya banyak anak-anak pendatang juga, mirip Van Lith, tapi ngekost, so kalian bakal lebih siap buat kuliah nantinya khususnya anak-anak perantau. Masih banyak juga sekolah-sekolah katolik kolese lainnya yang kualitasnya top lah. Kalau mau incer prestasi kalian bisa ambil negeri-negeri di Bandung dan Jogja, wah jos itu mah kualitasnya, ke PTN nya juga ga dipersulit ntar. O yaa, jangan lupa De Britto juga. Sekolah itu banyak juga mencetak orang-orang sukses. Tapi itu juga kalau pendaftarannya gak dibarengin sama Van Lith, soalnya beberapa tahun terakhir tanggal seleksinya kompakan sama Van Lith.

Kembali ke poin yang mau saya omongin: saya bener-bener pengen negasin kalau di mana sekolahmu tidaklah menentukan masa depanmu. Ini beneran 😡 . Tapi dirimu sendiri lah yang menentukan apakah kamu bakal sukses atau enggak. Tidak ada satu sekolahpun yang menjamin kesuksesan anaknya, tetapi mereka membeli bekal & lingkungan yang bisa mendukung peserta didiknya sebaik mungkin. Nah terkait lingkungan di Van Lith tuh menggunakan sistem asrama.. “Nah kak, berarti kan masuk Vanlith seenggaknya dah membawa kita satu langkah menuju kesuksesan karena tinggal di asrama jadi lebih mandiri?”

I don’t think so. Asrama itu bisa aja membawa kamu lebih dekat dengan kesuksesan tapi bisa juga membawa kamu lebih dekat dengan kehancuran hidup. Gimana maksudnya ntuh? Ada temen saya yang gara-gara dia tinggal di asrama hidupnya malah jadi kacau balau, ga bisa adaptasi sampai tahun-tahun kedua bahkan tahun terakhir, ga bisa bersosial, hidupnya menyendiri, alhasil nilai akademisnya juga bobrok gara-gara dia ga merasa punya ‘rumah’ untuk tidur. Ujung-ujungnya? Ya kalau nggak keluar di tengah, mungkin lulus dengan sebuah penyesalan berat di hidupnya karena hidupnya bakal jadi lebih baik kalau dia tidak tinggal di asrama, which is asrama menghancurkan kehidupan dia yang mungkin lebih terjamin di luar asrama.

Masih terkait tentang asrama, saya pernah punya teman cowo, sempat satu unit. Orangnya pinter? Iya. Nilainya bagus? Iya. Sosialnya? Oke banget, dia punya banyak temen, digemari aspi-aspi juga karena dia orangnya have fun banget. Tapi di akhir tahun pertama dia terpaksa harus meninggalkan kami angkatan 25 karena kasus di asrama, yaitu mencuri. Wah sepele banget gak sih? Gak juga sih. Entah saya gak tau dia kleptomania atau gimana tapi dia udah melakukan perbuatan itu sejak lama dan banyak dari kami yang tahu sebenernya tapi diem aja. Sampai akhirnya dia ketangkep pamong dan pihak sekolah memutuskan buat ngeluarin dia karena ketika dikalkulasi curiannya dia udah sekitar 2jt an (konfirmasinya sih gitu dari pihak asrama dan sekolah) :O .. Padahal dia termasuk anak yang berkecukupan di antara kami, ya bisa terbukti dari barang-barangnya yang bermerk. Ini adalah bukti nyata, di mana seorang anak yang harus mengalami 1 tahun di Van Lith yang mana itu buang-buang waktu. Dia bisa masuk ke sekolah yang lebih baik dan gak berasrama. Sekarang dia udah terlanjur punya ‘cap’ buruk. Yang salah siapa? dia? asrama? Menurut saya yang salah adalah ketidaksesuaian antara sistem di sini dan gaya hidupnya dia. Dia punya kebiasaan yang buruk dan ketika hidup berasrama ya dia gak bisa untuk menyesuaikan diri, tapi mungkin di dunia nyata dia bisa jadi orang sukses dan kaya.

Jadi simpulannya adalah Van Lith gak bisa menjamin masa depan seseorang, tetapi Van Lith memberi bekal untuk meraih masa depan seseorang. Yang manakala hal itu gak cuma bisa didapatkan di Van Lith, tapi di banyak tempat, di mana aja pasti ada jalan. Dan for your information yhaa Van Lith juga bukan yang terbaik, apalagi tahun-tahun terakhir ini saya pribadi merasa Van Lith sudah berbeda dengan yang dulu, sistemnya sudah berubah karena fokusnya memang sudah beda.

So.. buat kalian yang tidak diterima di sini, jangan jadikan ini sebagai suatu kegagalan. Bersyukurlah mungkin kamu tidak diterima di sini karena ada tempat yang lebih baik buat kamu, ada jalan menuju kesuksesanmu yang bukan dari sini. Kalau kata pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’. Keep fightin’ for your life and never stop when you fail!

Note : artikel ini bukan bermaksud menjelek-jelekan SMA Van Lith apalagi membuka aib. Tapi saya ingin menunjukan kepada mereka yang tidak diterima bahwa mereka masih punya kesuksesan di tempat lain.

Throwback – Rhapsody #2

Story ini ngelanjutin post saya sebelumnya yaitu Throwback – Rhapsody #1 . Bagi yang belum baca, silakan baca terlebih dahulu.

Kecelakaan Edo.

Ya, setelah kejadian sebelumnya yaitu Edo kepleset. Saya panik banget, seminggu sebelum lomba dan dia harus pulang ke Semarang. Untungnya setelah beberapa hari saya dapet kabar kalau Edo udah bisa balik lagi dalam 3 hari atas dasar kemauan dia sendiri juga mau ikut lomba. Ya, saya beruntung anggota saya adalah orang-orang yang emang bener-bener antusias buat ikut lomba.

Hari-hari terus berlalu, makin deket sama hari lombanya. Hari Sabtu sehari sebelum lomba saya request ga usah latian sama sekali, buat masa tenang dulu dan masa berdoa aja dulu, sekaligus nyiapin mental juga buat besoknya.

Lomba pertama Rhapsody.

Hari Minggunya kamipun berangkat ke Jogja pagi-pagi, kami dateng ke lokasi lomba dan daftar ulang terlebih dahulu di UGM. Kita masuk ke ruang transit dan naruh alat serta barang-barang kami di sana. Ngeliat grup-grup lain yang dandan dan make-up serta kostumnya dramatis banget, sementara grup saya cuma modal kemeja putih dan dress putih, udah deh gatau gimana ntar wkwk.

Kami jalan-jalan dulu di UGM, nikmatin bazar buku-buku sastra karena saat itu emang lomba diadakan dalam rangka Festival Sastra UGM oleh KMSI (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia). Kami dapat no urut sekitar 10 an, jadi masih santai dulu bisa nyaksiin yang lain.

Penampilan-penampilan dari SMA-SMA lain keren2 banget! Pada pake choreography, alat musik daerah dan yang aneh-aneh, ada yang nyelip-nyelipin drama, ada yang teriak-teriak. Grup sini mah apa atuh? :’)

Nampil

Giliran Rhapsody buat tampil, kami maju ke depan panggung hadep-hadepan langsung sama juri. Saya cuma bisa berdoa sama Tuhan semoga memberikan saya yang terbaik saat itu.

Penampilan mengalir gitu aja, tapi ada yang aneh dari penampilan kami. Penampilan kami bener-bener bikin juri dan penonton langsung ngeliat dan fokus panggung smua, karena sebelumnya banyak yang hape-an. Entah itu artinya buruk atau baik.

Penampilan selesai, kami ditanya-tanyain oleh MC dan jurinya. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah tentang perban di dagunya Edo yang keliatan banget haha..

Untuk penampilan overall baik, tapi kami membuat satu kesalahan di tengah-tengah saat transisi, karena kurang koordinasi dari cajoon dan musik lainnya. Untung bisa pada improvisasi dan kami udah sepakat kalau ada kesalahan ga boleh ada yang nengok ataupun ketawa (supaya ga ketahuan salah).

Nunggu hasil.

Saya masih inget setelah lomba kami di ajak guru kami Pak Satrio ke goa maria untuk doa dan minta berkat, holy banget wkwk.. Setelah itu diajak main ke rumahnya dia, ketemu orang tuanya dan pacarnya (sekarang udah jadi tunangan wkwk..). Pak Satrio nih baik banget, santai banget sama kami. Di rumahnya kami santai-santai dulu sambil nunggu hasil. Kami ngobrol-ngobrol, sharing, dan becanda di sana, asik banget pokoknya.

Suasana berubah menjadi tidak jelas ketika saya selaku contact person Rhapsody dapet WA dari panitia kalau kami diundang datang ke malam puncak mereka karena kami masuk 5 besar. Kalau mau negative thinking, bisa jadi kami urutan ke 4 atau 5 yang berarti pulang bawa tangan kosong. Pokoknya kami ga berharap banyak buat juara saat itu. Mungkin juara 3 aja udah bersyukur banget.

Malam Puncak FS UGM.

Ketika langit dah mulai gelap, kami pun datang ke UGM lagi untuk ngikutin Malam Puncak FS UGM. Saya inget banget saat kami lagi order go-food pizza hut, tiba-tiba saya didatengin seorang panitia terus dia tanya “dek, begini, grup dari SMA Van Lith kan masuk 3 besar, apabila nantinya juara 1 apakah siap untuk tampil sebagai puncak acara?” , dan dengan begonya saya jawab aja “juara berapa mas?” HAHAHA.. napsu banget ya.

“ehmm.. juara 1 mas.” katanya. Kami pun langsung heboh, ketawa-tawa, bangga, ga karuan dah pokoknya. Siapa yang nyangka bisa juara 1 di lomba pertama kami padahal ini lomba umum nasional. Puji syukur banget dah.

Kami pun langsung datengin Pak Satrio yang saat itu datang ke UGM dengan pacarnya lalu saya bilang “Pakkk, juara 1”, dan dia jawab “Oya?? bagus itu.” haha.

Lalu setelah itu kami pun nampil sebagai puncak, masih membawakan Sajak Putih karya Chairil Anwar. Dan kami pun pulang dengan sertifikat, trofi, serta uang hadiah juara 1. Bangga sama Tuhan, grup, pendamping, orang tua, temen-temen, dan diri sendiri.

UNS dan Sanata Dharma

Petualangan kami ga berhenti di situ, beberapa bulan kemudian kami iseng-iseng ikut lomba muspus di UNS bekerjasama dengan Balai Bahasa se-Jateng & DIY dan meraih juara 1 lagi. Minggu depannya kami dibawa Pak Satrio untuk ikut lomba muspus di PBSI Sanata Dharma dan kembali lagi meraih juara 1 se-Jateng DIY. Yang di PBSI Sanata Dharma ini saya juga masih inget banget kalau Sabtu sehari sebelumnya saya ikut cabang lomba debat dan meraih juara 2. Gara-gara itu instagram saya jadi rame kakak-kakak kuliahan PBSI Sanata Dharma.

Itulah petualangan kami sejauh ini, bagaimana kami bisa menjuarai 3 lomba berbeda. Sebenernya setelah lomba di UNS dan Sanata Dharma kami dapet undangan buat lomba muspus di Seminari Mertoyudan dan buat ikut lomba muspus balai bahasa tingkat provinsi yang nantinya kalau menang bisa maju nasional. Namun sayangnya lomba tersebut jatuh di semester 6 dan kami udah tidak boleh ikut lomba lagi di semester terakhir karena harus fokus UN.

Sekian kisah petualangan Rhapsody sejauh ini, bener-bener pengalaman berharga bagi saya di masa SMA ini.

Throwback – Rhapsody #1

Saya bingung mau nulis apa karena akhir-akhir ini lagi ga ada kejadian menarik, cuma menjalani ujian praktik yang sangat membosankan. Jadi saya memilih untuk throwback aja, saya mau cerita tentang awal mula Rhapsody, bener-bener dari awal.

Rhapsody?

Rhapsody itu grup musik, tepatnya grup musikalisasi puisi kesayangan saya, di mana orang-orangnya juga enak banget buat diajak berpetualang bersama nyari lomba. Saya bersyukur banget bisa pernah ketemu mereka dalam Rhapsody ini karena banyak banget pengalaman berharga yang saya dapet dari Rhapsody sendiri.

Berawal dari kebosanan saya menjalani kehidupan asrama di kelas 2 awal karena saya hanya mengulang hal yang sama di kelas 1 (mungkin juga karena saya udah terlalu kebanyakan kegiatan di kelas 1), jadi saya memutuskan untuk mencari lomba. Alasan lainnya adalah karena di kelas 1 saya menjabat di OSIS sebagai Komisi Media dan Seni (Dewan Anggota) yang tugasnya itu nyariin lomba buat anak-anak, jadi saya juga tertarik buat ikut lomba kan tuh. Namun saya juga mikir, mau ikut lomba apa, kalau mau menang lomba kan harus unggul. Saya pun mulai meneliti apa keunggulan diri saya.. musik? ya bagus tapi biasa aja, banyak yang lebih bagus. debat? belum levelnya lomba deh. nulis? apa lagi.

Di tengah kebingungan saya, dateng temen saya namanya Edo ngajakin buat ikut lomba muspus. Muspus? apaan tuh? adalah respon pertama saya saat diajak. Setelah saya cari-cari saya paham ternyata muspus itu musikalisasi puisi. Eh buset, musikalisasi puisi ala-ala pelajaran bahasa Indonesia gitu kan, yang orang baca puisi terus diiringi gitar dengan chord sedih diulang-ulang. Cuma sebatas itu pengetahuan saya saat itu. Saya belum berfikir tentang potensi menang lomba di bidang musikalisasi puisi ini. Tapi yaudah lah coba aja.. :’)

Nge-rekrut orang

Awalnya kan cuma saya dan Edo berdua aja tuh, jadi saya harus mencari orang lagi untuk melengkapi komposisi musik ini. Saya kebetulan waktu itu join grup akustikan gitu namanya Hacep. So, saya ga perlu muter-muter nyari orang buat grup ini, saya tarik aja beberapa anak dari grup Hacep ini. Terkumpulah 6 orang: saya, Edo, Rania, Tasia, Tije, Ence. Lomba pertama yang kami ambil adalah Lomba Musikalisasi Puisi di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, karena lokasinya juga ga jauh dari sekolah kami. Lomba ini kategorinya umum, tingkatnya nasional. Jos banget yah wkwk.. pertama kali lomba langsung umum nasional. Oya untuk susunan alat musiknya: Tasia (Vokal), Edo (Gitar 1), Rania (Gitar 2), Tije (Biola), Ence (Cajoon), dan saya sendiri keyboard/piano.

Persiapan

Mulai nyiapin lomba kan tuh, kami bingung mau mulai dari mana. Kebetulan Edo ini punya pengalaman ikut lomba musikalisasi puisi juga tapi ga menang, at least dia tahu cara menangin lomba musikalisasi puisi. Jadi berdasar pemahaman Edo, kami pun memutuskan untuk mencari guru musik yang bersedia membantu kami untuk membuat aransemen. Kebetulan saya punya kontak guru musik di SMP saya namanya Eclesia de Fretes. Beliau adalah seorang yang sangat berbakat dalam hal musik dan asik banget orangnya, guru favorit saya waktu di SMP lah pokoknya (ya iya pelajarannya paling selow). Hal ini dipermudah dengan saya dan Rania sebagai alumni SMP dari tempat guru saya mengajar ini. Saya kontak gurunya, dia mau, oke sip.

Kami mulai untuk persiapin aransemen, tiap liburan pulang ke rumah, saya nyempetin waktu ketemu Mas Eken (ini panggilannya) untuk bikin aransemen muspusnya. Puisi yang kami pilih adalah Sajak Putih milik Chairil Anwar, salah satu puisi yang melegenda di masa lampau Indonesia. Puisi ini bercerita tentang cinta seorang pria kepada wanita, namun keduanya tidak ada yang berani mengungkapkan, hanya memendamnya dan berharap satu sama lain saling menyukai. Pokoknya tiap kata-kata di puisi ini dalem banget maknanya. Kami milih puisi milik Chairil Anwar juga karena persyaratan dari pihak panitia lomba. Untuk analisis puisinya bisa dicari di Google karena saya sendiri bukan orang sastra yang pandai mengartikan puisi.

Dalam waktu kurang lebih 1 bulan, setelah melalui berbagai perubahan, aransemen musik kami pun jadi dan tinggal diterapkan. Kami pun mulai persiapan dan latian secara rutin (kira-kira seminggu 3 kali). Saya masih inget banget, di tengah-tengah latian banyak banget pro-kontra tentang musiknya dari kami masing-masing. Karena banyak dari kami yang ngotot-an dan selera yang berbeda-beda. Tapi menurut saya, dari situlah kami bisa bersatu membuat musik yang indah. Dalam proses latian ini kami juga dibantu Pak Satrio (guru bahasa Indonesia di SMA saya) untuk hal pendalaman makna puisi dan sajaknya.

Technical Meeting

Seminggu sebelum lomba kami diundang ke UGM untuk mengikuti technical meeting (TM), gak semua dari kami ikut TM, hanya saya, Tasia, dan Tije yang ikut TM. Yang lainnya ke toko-toko musik di Jogja buat nyari kelengkapan alat buat lomba minggu depan. Saat dateng ke TM ini saya sudah melihat persaingan yang ketat, grup yang daftar lebih dari 20 (kalau gak salah ada 25 an). Dan parahnya, banyak yang dateng dari sanggar seni, universitas seni, dan SMA-SMA yang seninya terkenal jos. Kami pun sempat pesimis, gimana enggak? Ini pertama kalinya kami ikut lomba muspus dan langsung bersaing secara besar gini. Apalagi setelah saya iseng-iseng cari informasi siapa juara tahun sebelumnya, kami mengetahui kalau juara tahun sebelumnya dari universitas dan tahun ini mereka ikut lagi. Makin pesimis deh saya wkwk..

Pengalaman yang gak akan pernah saya lupa adalah saat balik dari UGM, kami naik go-car di tengah ujan yang deres banget. Kami sempet mampir untuk makan bakso dulu yang cukup terkenal di Jogja (saya lupa namanya..) baru balik ke asrama. Nah, pas udah sampe asrama ini, Edo kepleset di depan pos satpam sekolah karena ujan yang deres banget dan lantainya licin semua. Spontan pertama kali saya ketawa karena emang lucu, eh setelah saya deketin, syit darah di mana-mana, gigi depannya pecah (bukan lepas, dari pecah), yang berarti benturannya keras banget. Edo pun langsung dibawa ke rumah sakit, ditemenin Ence. Saya balik asrama karena harus ngurus izin ke pamong dan ngasih tau kejadian yang dialami Edo. Jujur saya panik karena minggu depannya itu lomba dan saya takut Edo berhalangan ikut. Apalagi setelah saya dikasih tau kalau dia langsung dibawa pulang ke Semarang (asalnya dia dari sana) buat menjalani perawatan dan ada yang dijahit.

Lanjutannya ada di Throwback – Rhapsody #2 .

 

Pengalaman PDBB Van Lith

Ditahun yang ke 2 di SMA Van Lith ini, saya memutuskan untuk mulai menulis sesuatu yang saya harap berguna buat khalayak luas. Ya, salah satunya adalah pengalaman saya PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di SMA PL Van Lith Muntilan.
Sebelumnya perkenalkan, saya Julius Daniel, biasa dipanggil Judan. Saya merupakan anggota dari keluarga angkatan 25 (Silveration) di SMA Van Lith. Berikut adalah kisah perjuangan saya untuk masuk ke sekolah ini

[ini pergulatan batin saya menentukan pilihan swasta atau negeri, bisa langsung lanjut ke paragraf selanjutnya]

Saya menjalani masa putih biru saya di SMP Susteran Purwokerto (meskipun namanya Susteran tapi ini cewe-cowo). Seperti anak-anak yang lain, di tahun ke 3 adalah saat dimana saya harus menentukan saya mau lanjut ke mana, swasta atau negeri? Kalau saya pilih swasta, sudah jelas dari segi pendidikan cenderung lebih teratur dan terfasilitasi, namun biaya pasti lebih mahal dan nantinya sulit untuk menembus PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Kalau saya pilih negeri, yang SMA negeri trbaik di tempat saya (berdasarkan nilai UN SMP tahun-tahun sebelumnya) yang sempat saya kunjungi dan sangat membuat saya kecewa karena fasilitasnya kurang terawat, kelasnya tidak nyaman, dan guru-gurunya terkenal dateng kasih tugas terus pergi, nilai tinggal di katrol. Orang tua saya membebaskan saya untuk memilih, dia blg “Coba dulu saja ikut tes swasta, nanti keputusan mama kembalikan ke kamu deh.” . Ya, miris memang, meskipun sudah menggunakan sistem pendaftaran SMA Negeri terpusat dengan nilai UN, tetap saja pada akhirnya banyak teman saya yang membayar uang muka dan langsung masuk! Akhirnya, saya memutuskan untuk tes PPDB di Van Lith, Hua-Ind, dan beberapa sekolah kolese lainnya.

PPDB Van Lith dan De Britto adalah terawal dari pilihan saya, karena saya memilih Van Lith maka De Britto pun saya lepas. Saya sendiri tahu Van Lith dari kakak saya (Stefanus Aldo, Angkatan XX Vam Lith) dan guru-guru yang katanya pendidikan di sana bagus. Saya pun daftar menggunakan jalur online dan mendapat nomor pendaftaran 905, terakhiran banget ya! Saya berangkat ke Muntilan untuk tes bersama saudara saya yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Waktu itu ada sekitar 10 orang pendaftar dari kota saya, Purwokerto.

Saya menginap di hotel Artos, Magelang karena perjalanan dari Magelang ke Muntilan lebih dekat dan bebas macet dibanding memilih Jogja sebagai tempat penginapan. Malam sebelum PPDB saya mencoba review materi UN beberapa mapel seperti IPA, Mat, dll.. namun tidak lama, saya pun berhenti dan berkata dalam hati “Yah.. Semua kehendak Tuhan. Just do the best and let god do the rest” meningkatkan kepercayaan diri saya. Saya ga mau terlalu capek dan memilih tidur gasik sekitar jam 10 an.

Pagi-pagi jam 5 saya bangun dengan keadaan jantung saya berdebar-debar “Hari ini PPDB ya?” tanya saya ke kedua orang tua saya seakan belum bisa menerima kenyataan saya beranjak ke SMA. Saya mandi, sikat gigi, breakfast dan bersiap-siap menuju Muntilan. Perjalanan dari Artos Magelang ke Van Lith Muntilan memakan waktu kurang lebih 30 menit.

Sesampainya di SMA PL Van Lith, saya disajikan dengan pemandangan para penjual buku dan papan, sambil mengatakan “Ayo pak, bu, dek beli papannya, nanti kepakai kok di dalem karena gak ada mejanya”. INI PENTING! Jangan pernah membeli papan alas menulis yang dijual oleh mereka, sekalipun mereka mengaku dibawahi nama instansi SMA PL Van Lith, itu bohong! Di tempat tes sudah disediakan papan alas untuk tiap peserta dan sudah dicek keadaannya baik dan siap pakai. Kalau untuk buku seperti “Cara Jitu Masuk Van Lith” yang ngakunya punya soal-soal yang bakal diujikan, kalau saya bilang itu hanya omong kosong, karena materinya adalah materi SMP dan dia hanya copy-paste bank soal SMP lalu diganti book cover nya. Tapi kalau kalian mau membeli alat tulis karena lupa bawa atau kurang cadangan, ya silakan saja karena di dalam tidak disediakan alat tulis, tapi jangan salahkan kalau alat tulis yang dijual kualitas rendah atau bahkan palsu. So, berhati-hati dalam membeli ya guys!

Saya masuk ke Van Lith, sudah sangat ramai saat itu, warna-warni baju seragam SMP yang berbeda-beda membuat saya semakin gugup. Akhirnya saya masuk ke tempat tes saya, untuk yang cowo bertempat di Aula, untuk yang cewe bertempat di Kapel. Ternyata pengawas dan panitianya adalah mereka-mereka yang masih kelas 10.

Tes pertama yang saya hadapi adalah Tes Psikotes dari Pelita Wacana. Untuk tes ini cukup mengandalkan nalar aja, ga ada yang harus dipelajari. Untuk tes ini ada tes kecerdasan spatial, kreatifitas, kinetik dll.. Saran saya saat tes ini, kalian harus dalam keadaan konsentrasi penuh, itu mengapa tes ini ditempatkan pertama. Jangan tidur kemalaman sebelumnya, minum air putih cukup, makan secukupnya. Bentuk-bentuk soalnya saya udah lupa, karena emang ga perlu dipelajari. Ada satu soal terakhir yang masih saya inget karena ini lucu, yaitu disuruh nyebutin benda-benda berwarna putih sebanyak-banyaknya, saya langsung liat sekeliling (tembok, lantai, kapas, kertas, susu, dll) dan saya sempat mengisi ‘sperma’, setelah itu saya baru inget sperma itu bening bukan putih ????. Tes ini semacam tes minat bakat gitu kalau saya bilang. Oiya, ada tes penilaian terhadap gambar juga, jadi diedarin kertas bergambar, terus suruh mencari objek dan menentukan apa yang subjek lakukan (misal : Seseorang sedang menyirami tumbuhan). Lalu ada tes musikal juga, ga susah-susah banget sih karena pertanyaannya mendasar seperti tangga nada, not, dll. Lalu ada tes kepribadian juga, yang diutamakan di sini kejujuran. Pertanyaannya seperti “Jika kamu melihat seseorang yang terjatuh ke sungai, apa yang akan pertama kamu lakukan?” lalu opsinya a. Langsung menolongnya b. Meninggalkan c. Mencari orang lain untuk pertolongan d. Melihat situasi sekitar . Disini hampir tidak ada jawaban yang salah, so.. be honest! ????

Istirahat sekitar 1 jam. Lalu tes mata pelajaran: Matematika, Bahasa, IPA, IPS. Semua soalnya pilihan ganda,  susah.. iya susah. Karena materinya SMP tapi disinggung-singgungkan sama materi SMA. Seperti IPS sudah dipecah menjadi Geografi, Ekonomi, dll (Di SMP saya cuma ada “IPS”). Saya lebih nyaman di soal matematika dan IPA, meskipun ada beberapa soal yang baca soal aja saya ga mudeng ????. Di Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, saran saya jangan berhenti di satu soal, langsung lanjut aja, karena waktunya sangat sedikit. Di IPS, saya gabisa apa-apa ????, karena dominan hapalan dan saya ga belajar apa-apa. Banyak soal-soal UN SMP, jadi pelajarilah kembali UN SMP!

Di sesi terakhir dibagikan kertas berisi data diri. Seperti nama lengkap, ttl, orangtua, nama pastor, paroki, ketua dewan paroki, ketua lingkungan (hapalin namanya jangan sampai lupa, kalau lupa kayak saya, ngarang aja hehe.. Yang penting ga kosong). Data-data ini bakal ditanyakan ulang kalau kalian lolos ke tahap wawancara. Jadi, jangan sampai lupa apa yang kalian tulis di kertas itu!

Hari Pertama selesai. Saya pulang ke hotel.  Pengumuman lolos atau tidak ke tahap berikutnya akan dipublish via website pukul 9 malam. Saya menanti-nantikan hal tersebut. Dan Puji Tuhan, saya lanjut, begitupula dengan saudara saya. Karena saya berasal dari Jawa Tengah jadi saya tes wawancara dan fisik di hari ke 3 (hari ke 2 untuk yang dari luar Jawa).

Hari ke 3, saya kembali ke Van Lith untuk tes fisik dan wawancara. Yang cowo waktu itu tes wawancara dulu baru fisik. Yang cewe, kebalikannya. Ketika saya ngantri untuk wawancara, saya banyak ketemu dan ngobrol2 sama calon kakak kelas yang sebagai panitia ppdb juga. Ini Penting! Saya dikasih tia kakak kelas supaya sebelum masuk ketuk pintu dulu, nunggu dipersilakan, baru masuk. Setelah masuk, jangan langsung duduk, salamin dulu pewawancaranya, setelah dipersilakan duduk barulah duduk. Karena pewawancara akan menilai kesopanan para peserta juga. Saya masuk ke ruang wawancara, hanya ada 3 orang di sana, saya dan 2 pendamping. Seperti yang diinstruksikan, saya ikuti. Wawancara berlangsung mulus, saya jawab pertanyaan demi pertanyaan mereka seperti “tau vanlith dari siapa?” “motivasi masuk vl apa?” “kalau ga ketrima di vl gimana?” “masuk vl karena paksaan ortu atau kemauan sendiri?”. Poin pentingnya adalah jujur! karena mereka sudah berpengalaman mewawancarai tiap tahunnya, jadi pasti bisa bedain kalau ada kebohongan. Hal yang fatal adalah ketika saya ditanyain “Tokoh favorit kamu siapa?”, saya jawab “Ayah saya”, terus ditanyain “Tanggal lahir ayah kamu kapan?”, shit.. ???? saya lupa! beneran, lupa! Jangan sampai seperti itu ya, jadi tetap konsisten sama jawaban kalian, jangan coba berbohong. Oiya, jangan lupa buat eye contact dengan pewawancara, tatap matanya!

Wawancarapun selesai, saya lumayan malu dengan kesalahan saya. Lanjut ke tes fisik. Sialnya saya kedapatan terakhir dan itu ketika hujan, ya saya hujan-hujanan. Tes fisiknya berupa Lari Sprint, Lari di ukuran lap. sepak bola dikasih waktu 12 menit dapat berapa putaran (saya dapet 5 kalau ga salah), push up, sit up, squadrash.

Di sini jujur saja saya kurang, karena saya ga ada persiapan fisik, tapi katanya yang penting usaha kita keliatan kalau kita niat buat masuk.

Habis tes fisik, karena saya orang yang kurang olahraga berakibat badan saya sakit semua. Saya balik ke hotel dalam keadaan basah kuyup.

Done. Di titik ini saya tinggal menunggu hasil. Sekian pengalaman perjuangan PPDB VL saya, semoga berguna buat kalian yang mau daftar juga. Kalau mau tanya sesuatu bisa comment di sini atau add contact saya (line : juliusdan_), saya selalu terbuka.

(Judan. XXV)

Refleksi Tahun Pertama

​(Dikutip dari refleksi tahunan Van Lith pertama saya 2016 lalu.)

Semakin cinta ketika dilepaskan, begitulah hukumnya dengan rumah yang semakin menjadi rumah ketika ditinggalkan.

Iya, itu semua kami alami di sini, di tempat penginapan kami yang entah berantah ini. Berawal dari sebuah pilihan yang membuat kami harus terpaksa meninggalkan apa yang kami sebut ‘rumah’.

‘Rumah’ bagi kami bukanlah suatu bangunan atau karya arsitektur nan megah, namun bagi kami ‘rumah’ adalah suatu tempat di mana kami bisa bebas mencurahkan semua kesenangan, kesedihan, dan segala emosi kami. Bebas? Iya, benar.

Berarti di ‘tempat penginapan’ baru itu kami tidak bebas? Hmm.. bisa dibilang, iya.

Tetapi terkadang kebebasan itu bukanlah segalanya, tepatnya tidak segalanya bisa didapatkan dengan kebebasan. Terkadang ada beberapa hal yang harus diperjuangkan juga yang tidak bisa didapatkan dengan kebebasan. Hal itulah yang kami gali bersama di sini, di tempat penginapan kami ini!

Sudah dengan julukan-julukan aneh? Haha.. Iya itu secara kasarannya. Perkenalin, saya Julius Daniel Sarwono, salah satu orang yang masih berpartisipasi di angkatan dua lima. Lebih seringnya saya dipanggil dengan singkatan yaitu Judan.

Maksud dari rumah yang saya sebut ya memang sebuah rumah yang ada di kota asal saya, yang saya tinggalin, dan semua kenangan-kenangan, pengalaman, orang-orang yang berharga bagi saya yang tidak hanya dalam sebuah wujud bangunan. Sejak 25 Juli 2015, saya memutuskan untuk mengubah hidup. Hah?

Mengubah hidup? Ya, saya menjebloskan diri saya sendiri ke SMA PL Van Lith berasrama, di sebuah desa kecil yaitu Muntilan yang ada di Kabupaten Magelang.

Ini sudah hampir tahun pertama saya, tinggal dengan orang yang sama, yang ketika saya bangun dan membuka mata adalah pemandangan yang sangat amat membosankan, yaitu para warga asrama putra yang berlarian kesana kemari, disambut dengan pemandangan yang lebih mendingan saat jam sekolah karena adanya warga asrama putri.

Begitulah alurnya, mengulang dan mengulang, membosankan bukan? Tapi bagaimanapun juga mereka adalah angkatan saya, keluarga saya, harta yang sekarang menjadi paling berharga buat saya, karena tanpa mereka belum tentu saya bertahan sampai sekarang.

Dalam kurun waktu setahun, sudah banyak rekor baru dalam hidup saya yang saya pecahin. Mulai dari dimarah-marahin sambil konsekuensi ketika OASE, didatengin penunggu, homesick rame-rame, pindah tempat tidur (homestay), ‘jalan-jalan’ bareng sejauh kurang lebih 40 km untuk mendapat benda kecil merah yang harus menjadi tambahan atribut tiap harinya (napak tilas), ngalamin barang hilang, kecurian uang, tidur jejel-jejelan dan masih banyak lagi yang ga bisa saya ceritain di sini.

Yang pasti saya syukurin semuanya, apa yang udah terjadi, yah namanya udah terlanjur mau gimana lagi, haha.. Tapi ini belum semuanya dari perjalanan saya di Van Lith, ya, ini baru satu tahun, sepertiga dari seluruh perjalanan saya! Dan berita buruknya saya masih harus lanjut hidup di sini. Hidup saya belum berakhir, ‘perjuangan’ yang tadi saya bilang belum berakhir, tepatnya ini baru awal dari seluruh perjuangan saya di sini, di SMA PL Van Lith Muntilan, di angkatan dua lima, di kehidupan kedua saya.