Menentukan pilihan.

Rabu, 28 Februari 2018. Besok saya pengambilan nilai Biologi, jadinya saya stres, makannya saya nulis. Di tulisan ini saya ingin cerita tentang plan saya setelah lulus ke depannya.

Jadi saat ini sedang masa pendaftaran SNMPTN bagi yang udah lolos seleksi PDSS kemarin. Sekolah saya akreditasi A jadi ada 50% yang bisa mengikuti SNMPTN tahun ini. Saya ngisi pilihan pertama di FTI-G ITB dengan mengambil program peminatan Manajemen Rekayasa Industri dan pilihan kedua di FTI-J ITB. Pilihan ke 3 sengaja saya kosongkan supaya nggak mempengaruhi pilihan pertama dan kedua saya. Jujur saja saya kurang optimis dengan pilihan saya yang bisa dibilang cukup tinggi itu, karena FTI-G ITB merupakan salah satu fakultas yang paling diminati di ITB terkhusus Teknik Kimia dan Teknik Industri nya. Saya nggak begitu berharap dengan diterima di jalur SNMPTN, tapi kalau diterima ya syukur deh.

Lalu untuk SBMPTN, persiapan saya pribadi adalah nyicil materi-materi SBMPTN yang irisan dengan Ujian Nasional (UN). Karena UN penjurusan saya adalah Kimia, maka saya memutuskan untuk mempelajari TPA dan Kimia terlebih dahulu. Seisi buku TPA wangsit udah saya habisin bulan lalu dan saat ini masih progress untuk mengerjakan latihan soal xpedia zenius Kimia, setiap harinya (kalau sempat) saya bangun pagi dan menyicil 2-3 bab. Cepet emang karena materinya sudah pernah saya pelajari.

Plan saya apabila tidak diterima SNMPTN yang pasti mengikuti SBMPTN, disamping itu saya berencana mencoba SIMAK inter UI melihat peluang masuknya yang cukup besar (ya iya biaya tesnya juga berlipat ganda sbmptn). Setelah UN (9-12 April 2018) nanti saya akan langsung flight ke Bandung, saya udah mempersiapkan kos-kosan di sana bareng salah satu teman saya namanya David (dia daftar FTSL ITB). Kenapa ke Bandung? Hmm.. kenapa ya, mungkin karena pusat bimbel-bimbel gitu jadi lebih enak juga belajarnya, selain itu juga aura-auranya kan di Bandung tuh jadi menyemangati dan memotivasi perjuangan buat masuk ITB juga wkwk.. Kalau untuk pilihan di SBMPTN nanti saya juga belum tahu sebenarnya mau ambil apa.

Di sisi lain, saya juga pengen ambil USM IPB mengikuti papa, mama, dan kakak saya. Mungkin nanti kalau gak ketrima semuanya bakal ambil USM IPB ngincer jurusan Teknologi Pangannya yang paling diakui se-Asia.

Nah itu ranah pendidikannya. Kalau untuk liburannya saya udah pasang target lebih banyak wkwk.. Yang pasti Goes To angkatan saya bakal ke Bali. Saya juga berjanji kepada salah satu teman saya akan main ke rumahnya kalau diterima SNMPTN di Klaten. Kalau keterima SNMPTN saya juga bisa liburan di Bandung dulu sesaat. Lalu yang saya nanti-nantikan adalah plan liburan trip Korea-Jepang rencananya dekat-dekat lebaran nanti.

Memangnya Van Lith menjamin masa depan?

Tertanggal 16-18 Februari 2018 saya libur imlek dan wawancara finansial. Jadi kemarin itu udah pengumuman penerimaan peserta didik baru angkatan 28 SMA PL Van Lith. Selamat ya yang ketrima, yang nggak ketrima: don’t be sad, tetaplah bersyukur karena masih ada tempat lain. “Tapi kan di Van Lith ada iniii… itu… di sekolah lain kan gak ada kak? Van Lith juga katanya menjamin masa depan..”

Van Lith menjamin masa depan gak sih?

Pertanyaan yang cukup sering terdengar di telinga saya. Karena ini sedang libur wawancara finansial (WF) di mana orang tua peserta didik yang anaknya diterima sedang di wawancara untuk keperluan finansial di Van Lith nantinya. Maka saya angkat topik ini. Sebelum saya gubris, saya jawab dulu secara singkat dari pertanyaan “Van Lith menjamin masa depan gak sih”: TIDAK.

Jadi ceritanya ada anak (hm.. ga cuma 1 sih) yang dia itu merasa sedih karena tidak diterima di Van Lith, dia bilang kalau dirinya itu merasa down banget karena temen-temennya ada yang biasanya di bawah dia tapi gak diterima. Iya sih, jujur aja sampai sekarang saya sendiri gatau kriteria yang bener-bener tentang penerimaan peserta didik di Van Lith nih apa, poin utamanya apa juga kurang jelas. Yang pasti saya tiba-tiba diterima aja hehe.. 😆 dan opini menariknya adalah: biasanya yang gak pengen-pengen masuk Van Lith itu diterima, eh yang pengen dan ngincer sejak lama itu malah tidak diterima. Banyak rumor yang mengatakan begitu, sebenarnya ada benernya ada enggaknya sih. Enggaknya adalah: di angkatan saya aja ada kok yang sudah mengidam-idamkan Van Lith sejak lama (katanya sih sejak SD wkwk..). Jadi kesimpulannya gimana? Ya saya tetap nggak tahu proses penerimaannya gimana, karena hasil seleksi juga tidak transparan, tiba-tiba hasilnya ada aja. Dan please don’t ask us (panitia dari kakak kelas), karena kita sendiri cuma bertugas jadi panitia pelaksana bukan tim penyeleksi. Saya pribadi 2 tahun lalu jadi koordinator seksi tertulis (termasuk ke tahap 1 seleksi) tugasnya cuma mengawasi dan mengatur jalannya aja, plus nyatetin yang nyontek eheheh.. tapi daftar yang nyontek juga cuma saya kasih aja ke panitia penyeleksi (pendamping dan tim psikologi), gak tahu dipakainya untuk apa.

Tapi poinnya bukan itu sih yang mau saya omongin, yang mau saya omongin adalah: kesuksesan itu gak harus dari Van Lith, dan bukan cuma di Van Lith, dan Van Lith sendiri gak selalu mencetak kader sukses. Buat kalian yang Katolik masih banyak banget referensi SMA-SMA bagus di Indonesia khususnya pulau Jawa ini. Waktu itu saya juga berencana daftar ke Hua-Ind (Kolese Santo Yusuf) tapi karena sudah keterima di Van Lith jadi saya batal. Sepupu saya yang tidak diterima di Van Lith jadinya masuk sana, di sana bagus kok, sistemnya banyak anak-anak pendatang juga, mirip Van Lith, tapi ngekost, so kalian bakal lebih siap buat kuliah nantinya khususnya anak-anak perantau. Masih banyak juga sekolah-sekolah katolik kolese lainnya yang kualitasnya top lah. Kalau mau incer prestasi kalian bisa ambil negeri-negeri di Bandung dan Jogja, wah jos itu mah kualitasnya, ke PTN nya juga ga dipersulit ntar. O yaa, jangan lupa De Britto juga. Sekolah itu banyak juga mencetak orang-orang sukses. Tapi itu juga kalau pendaftarannya gak dibarengin sama Van Lith, soalnya beberapa tahun terakhir tanggal seleksinya kompakan sama Van Lith.

Kembali ke poin yang mau saya omongin: saya bener-bener pengen negasin kalau di mana sekolahmu tidaklah menentukan masa depanmu. Ini beneran 😡 . Tapi dirimu sendiri lah yang menentukan apakah kamu bakal sukses atau enggak. Tidak ada satu sekolahpun yang menjamin kesuksesan anaknya, tetapi mereka membeli bekal & lingkungan yang bisa mendukung peserta didiknya sebaik mungkin. Nah terkait lingkungan di Van Lith tuh menggunakan sistem asrama.. “Nah kak, berarti kan masuk Vanlith seenggaknya dah membawa kita satu langkah menuju kesuksesan karena tinggal di asrama jadi lebih mandiri?”

I don’t think so. Asrama itu bisa aja membawa kamu lebih dekat dengan kesuksesan tapi bisa juga membawa kamu lebih dekat dengan kehancuran hidup. Gimana maksudnya ntuh? Ada temen saya yang gara-gara dia tinggal di asrama hidupnya malah jadi kacau balau, ga bisa adaptasi sampai tahun-tahun kedua bahkan tahun terakhir, ga bisa bersosial, hidupnya menyendiri, alhasil nilai akademisnya juga bobrok gara-gara dia ga merasa punya ‘rumah’ untuk tidur. Ujung-ujungnya? Ya kalau nggak keluar di tengah, mungkin lulus dengan sebuah penyesalan berat di hidupnya karena hidupnya bakal jadi lebih baik kalau dia tidak tinggal di asrama, which is asrama menghancurkan kehidupan dia yang mungkin lebih terjamin di luar asrama.

Masih terkait tentang asrama, saya pernah punya teman cowo, sempat satu unit. Orangnya pinter? Iya. Nilainya bagus? Iya. Sosialnya? Oke banget, dia punya banyak temen, digemari aspi-aspi juga karena dia orangnya have fun banget. Tapi di akhir tahun pertama dia terpaksa harus meninggalkan kami angkatan 25 karena kasus di asrama, yaitu mencuri. Wah sepele banget gak sih? Gak juga sih. Entah saya gak tau dia kleptomania atau gimana tapi dia udah melakukan perbuatan itu sejak lama dan banyak dari kami yang tahu sebenernya tapi diem aja. Sampai akhirnya dia ketangkep pamong dan pihak sekolah memutuskan buat ngeluarin dia karena ketika dikalkulasi curiannya dia udah sekitar 2jt an (konfirmasinya sih gitu dari pihak asrama dan sekolah) :O .. Padahal dia termasuk anak yang berkecukupan di antara kami, ya bisa terbukti dari barang-barangnya yang bermerk. Ini adalah bukti nyata, di mana seorang anak yang harus mengalami 1 tahun di Van Lith yang mana itu buang-buang waktu. Dia bisa masuk ke sekolah yang lebih baik dan gak berasrama. Sekarang dia udah terlanjur punya ‘cap’ buruk. Yang salah siapa? dia? asrama? Menurut saya yang salah adalah ketidaksesuaian antara sistem di sini dan gaya hidupnya dia. Dia punya kebiasaan yang buruk dan ketika hidup berasrama ya dia gak bisa untuk menyesuaikan diri, tapi mungkin di dunia nyata dia bisa jadi orang sukses dan kaya.

Jadi simpulannya adalah Van Lith gak bisa menjamin masa depan seseorang, tetapi Van Lith memberi bekal untuk meraih masa depan seseorang. Yang manakala hal itu gak cuma bisa didapatkan di Van Lith, tapi di banyak tempat, di mana aja pasti ada jalan. Dan for your information yhaa Van Lith juga bukan yang terbaik, apalagi tahun-tahun terakhir ini saya pribadi merasa Van Lith sudah berbeda dengan yang dulu, sistemnya sudah berubah karena fokusnya memang sudah beda.

So.. buat kalian yang tidak diterima di sini, jangan jadikan ini sebagai suatu kegagalan. Bersyukurlah mungkin kamu tidak diterima di sini karena ada tempat yang lebih baik buat kamu, ada jalan menuju kesuksesanmu yang bukan dari sini. Kalau kata pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’. Keep fightin’ for your life and never stop when you fail!

Note : artikel ini bukan bermaksud menjelek-jelekan SMA Van Lith apalagi membuka aib. Tapi saya ingin menunjukan kepada mereka yang tidak diterima bahwa mereka masih punya kesuksesan di tempat lain.

Gak punya arah.

Peringatan: post ini sangat tidak jelas alur waktunya dan banyak flashback yang gak jelas. Kalau ga suka, mending gausah baca.

Ya ya ya. Semester terakhir di SMA itu bagaikan hidup terombang-ambing di atas lautan yang luas, seperti itulah saya ibaratkan hidup saya sekarang. Pernah punya pengalaman ambis di semester 3-5 membuat semester 6 ini menjadi suatu yang beda. Saat ini saya gak ada tujuan dan motivasi berkembang lagi.. for me 2 setengah tahun yang ada sudah cukup bagi saya. Tinggal menjalani sisa-sisa masa SMA yang kurang berwarna ini, ya iya.. di saat anak SMA sekolah lain merasakan yang mereka sebut ‘masa putih abu-abu’, kami anak Van Lith hanya bisa tersenyum nunggu tanggal keluarnya kami, bahkan ngitung hari ala narapidana udah jadi tradisi kami. Di depan saya banyak ujian menghadang: Ujian Praktek minggu depan, USBN, berbagai Try Out, dan puncaknya di Ujian Nasional. Belum kalau ntar ga keterima SNM artinya masih ada SBM.

Masa SMA seperti Dilan & Milea.

saya belum nonton filmnya sih, tapi dari novel dan foto-foto serta trailernya dah jelas banget kalau kehidupan anak SMA di film itu bakal beda banget sama kehidupan anak SMA Van Lith, khususnya saya yang menjalani 3 tahun ini ‘sendiri’.

Banyak temen saya yang jadian sesama anak asrama (ttp cowo-cewe maksudnya..) dan katanya asik, tapi entah kenapa di kelas 12 ini minat saya untuk berpacaran sangat minus, karena udah mau lulus. Dulu pas kelas 10 dan 11? Pernah sih deketin tapi selalu gagal, maklum bukan cowo berlebih. //so sad.. 🙁

Dicemooh karena scorehunter

Sebenernya saya udah tau risiko ini sejak awal kelas 2 saya berniat ambis. Berawal dari keinginan saya masuk univ ternama di Bandung, saya mulai ngambis. saya udah tau aja tuh nantinya bakal gimana, karena saya bukan yang pertama kayak gini.

Awal ngambis, disanjung sih.. karena banyak yang ga nyangka: anak musik, anak organisasi tiba-tiba nilainya melejit dan masuk peringkat paralel. Setiap kali ada pertanyaan “eh jud, kamu makan apa sih, makanan kta kan sama, kok bisa pinter?” dan saya hanya tertawa dalam hati, van lith adalah tempat di mana banyak orang pintar yang tidak sadar dirinya pintar. Ibarat unggul ditarung sama unggul, pasti bakal rendah diri duluan, apalagi kami asrama dan gak punya patokan lain karena tertutup dari dunia luar.

Time flies, saya mulai menerima julukan “scorehunter”, yah seperti dugaan saya. Sterotip-sterotip gak enak tentang saya pun mulai simpang siur, yah namanya juga semakin kita nonjolin sesuatu semakin banyak orang gak seneng. Dan saya bukan orang yang bisa stay humble, seriously.. itu susah bro! saya bukan orang supel.

saya dikasih tau kalau saya berpeluang snmptn oleh kakel-kakel. Jadi saya coba ngeliat prestasi saya di SMA dan blank.. saya gak punya apa-apa. Mulailah saya cari celah yang potensial tentunya..

Rhapsody dan Tim Debat

Berawal dari temen saya ngajak lomba musikalisasi puisi (muspus), saya coba-coba aja. Bentuk grup, kasih nama, Rhapsody, cari pelatih, latihan. Ikut lomba pertama langsung tingkat provinsi dan umum! Eh nggak nyangka juara 1 bersaing melawan universitas-universitas jurusan seni ternama. Terus saya mikir, kalau cuma bidang musik kayaknya gak cukup, saya pun cari info lomba lainnya yang bisa saya ikuti.

Debat! Dulu akhir kelas 1 saya pernah ditunjuk sekolah buat nampil debat di acara internal dan tim saya menang. Merasa udah bermodal chemistry yang ada, saya pun kumpulin orang-orang yang ada. Kami bertiga langsung cao ke lomba tingkat SMA se-Jateng DIY. Lawannya? TN, Debritto, stero, yahh cuma bisa berharap deh sama yang ini.. Persiapan waktu itu saya masih inget, kami cuma latian 2 kali dan materi pun nge-print 2 malem sebelum lomba karena mosi nya berubah-ubah terus. Hasilnya tidak disangka.. kami meraih juara 2, di luar ekspetasi saya.

Eh, rhapsody nya malah minta lomba lagi, kami pun hunting lomba dan memenangkan beberapa event: Juara 1 di lomba muspus Sadhar, Juara 1 festival sastra UNS. Dari situ berdatanganlah undangan ke tingkat provinsi buat seleksi nasional, juga dari tetangga kami sekolah seminari mertoyudan buat ikut lomba di event apresiasi seni eksternal perdana mereka. Namun melihat pertimbangan waktu bahwa kami udah kelas 3 dan harus fokus ujian, kami pun tolak kedua undangan terakhir.

Banyak yang gak suka.

Entah cuma perasaan saya aja atau memang begitu (mudah-mudahan cuma perasaan ya..), bahwa ada beberapa dari angkatan saya yang sinis sama saya. Mungkin karena saya sombong? at least, saya memang punya sesuatu untuk dibanggakan dan itu hasil jerih payah saya. Jadi saya gak merasa salah untuk hal ini, karena kalau lu lagi di atas, emang bener-bener susah untuk stay humble. Dan ga jarang saya denger “hidup itu meroda, kadang di atas kadang di bawah”, bagi saya itu bullshit besar, kalau hidup itu bener-bener roda, orang-orang besar seperti Bill Gates dan Jack Ma gak bakal ada. Loh? Ya gimana mereka mau nongol kan hidup itu meroda, semuanya bakal dapet gilirannya, jadi mereka berusaha keras pun gak ada gunanya karena Tuhan kan adil bagi ciptaannya yang rajin dan malas. bruh.. eat that fuckin’ sarcasm!

Penutup: Masa SMA adalah panggung kegagalanmu yang paling besar, buat kegagalan sebanyak mungkin!

Ya, kegagalan yang saya maksud adalah keberanian untuk mencoba. Setelah flashback di atas, saya simpulin kalau masa SMA ini adalah panggung kegagalan, loh kok panggung? Iya, karena kegagalan kita masih sebatas drama, gak serius, gak berdampak besar.

Kemarin saya ditunjuk buat doa umat dalam misa bersama bahasa Inggris di sekolah, saya baru dikasih tau malemnya dan besok paginya baru dapet teks. Ditambah lagi saya masih punya tanggungjawab jadi pengiring koornya. Banyak pikiran? Nyabang cuy..

Pas misa, saya gatau kapan harus maju buat doa umat (maklum, di gereja ga pernah merhatiin), saya manut temen aja “bro ntar kalau udah saatnya maju, kasih tau ya”. saya ikutin tuh kan, sampe mimbar, anak-anak pada ketawa. Dalem hati saya: syit! kesalahan apa yang saya perbuat, apa saya belum saatnya maju. saya pun TURUN DARI MIMBAR! ternyata mereka ketawa gara-gara muka saya lucu KATANYA. Nying.. saya naik lagi dengan muka semalu-malunya setelah dilihatin satu kapel, saya stay cool bacain doa umat dengan belepotan.

Kelar misa? Seperti dugaan, jadi bahan cemoohan. Udah biasa. Telen aja. “Tau gitu mending aku aja yang doa umat jangan Judan”, “Jud kalau udah maju ya maju aja jangan turun lagi”, dan makanan-makanan lainnya. Malu? Iya. Tapi at least, saya pernah punya pengalaman berharga ini, daripada mereka yang cuma bisa omdo, disuruh maju aja gemeteran, bahasa Inggris juga pas-pasan. Ya saya tau bahasa Inggris saya juga biasa aja, tapi saya seenggaknya ga menolak ketika ditunjuk doa umat. Prinsip saya adalah semua kegagalan saya dikeluarin di SMA ini, supaya nanti lulus SMA bukan jadi saatnya buat gagal lagi. Ibarat hidup itu meroda, kadang di atas kadang di bawah.

 

Titik jenuh di akhir SMA

JENUH.

Memasuki semester 6 di masa SMA.. Masa-masa yang kata orang paling asik buat dinikmati. Di Van Lith? enggak deh –” . Ngerasa banget sibuknya karena banyak kegiatan-kegiatan yang katanya ‘pendidikan karakter’ sehingga terkadang hiburan-hiburan SMA harus dikesampingkan. Semester 6 udah nggak boleh ikut lomba ini itu, udah nggak boleh aktif kepanitiaan lagi. Jadi keseharian saya ya makan, tidur, belajar itu aja.

Tiada hari tanpa belajar. Bangun tidur jam 7, masuk sekolah sampai jam 2 siang terus pulang ke asrama. Balik ke sekolah lagi buat tambahan wajib jam setengah 4 sampai jam 5. Balik ke asrama lagi buat studi wajib sampai jam 7, bagi mereka yang tidak beruntung (nilainya di bawah rata-rata) harus mengikuti pelajaran tambahan lanjutan di sekolah. Jam 7 makan tuh, habis itu studi fakultatif di asrama dan lagi-lagi bagi yang kurang beruntung harus tambahan lagi di sekolah sampai jam setengah 10. Berasa hoki bisa selamet dari tambahan-tambahan yang melelahkan itu karena saya cuma cukup mengikuti tambahan wajib. Pokoknya semester 6 ini udah belajar terus dah isinya! Saya yang dulunya suka belajar sekarang malah jadi jenuh karena belajar terus.

Jadi Pemales.

Ya, karena sebelumnya saya terkenal orang yang sangat amat rajin di asrama. Akhir-akhir ini saya kekurangan motivasi buat mempelajari materi-materi di sekolah. Kenapa? Karena saya ngambis sebelumnya demi memperbaiki kurang nilai saya di semester 1 dan 2 untuk SNMPTN, ya dengan cara ditutupi pakai nilai semester 3-5. Saya merasa cukup sukses untuk nutup nilai semester 1-2 yang rata-ratanya cuma berkisar 87 dan semester 3-5 dengan rata-rata nilai 93. Alhasil Puji Tuhan nilai rata-rata akhirnya bisa 90.00. Sekarang saya cuma bisa berharap untuk SNMPTN, semoga Tuhan menyediakan jalan di tahap ini. Kalau enggak?

SNMPTN & SBMPTN 2018

Jadi tepat hari ini, 12 Januari 2018, website resmi snmptn dan sbmptn telah diperbarui dan tanggal-tanggal palsu yang beredar di internet telah dipatahkan oleh fakta bahwa pengumuman SNMPTN pada tanggal 17 April 2018 (saat saya lagi asik-asiknya Goes To di Bali nanti (T_T) ..) dan SBMPTN pada tanggal 8 Mei 2018. Fak.. tanggalnya dimajuin dari tahun-tahun sebelumnya. Saya missio canonica (semacam wisuda/kelulusan) aja tanggal 5 Mei 2018.. cuma selang 2-3 hari! Dan itu berarti kalau itung-itung tanggal waktu persiapan yang dimiliki sejak UN adalah 3 minggu.. lalu? Derita bagi anak Van Lith karena akan melaksanakan Goes To seminggu setelah UN, seminggu waktu efektif untuk persiapan SBMPTN nggak sampai 2 minggu! Bayangin deh materi sebanyak itu harus dipersiapkan dalam waktu ‘cuma’ 2 minggu. It is possible? Semoga Tuhan selalu menyertai yaa.

So, kesimpulannya kondisi saya sekarang sangat berharap untuk SNMPTN, karena saya super-super gak pengen ikut SBMPTN yang katanya berlipat-lipat lebih sulit dari UN (ya iya lah passing grade 50% aja udah susah minta ampun..) dengan waktu persiapan sebegitu singkat. Tapi kalau kenyataan berkata lain, yasudahlah apa daya saya harus persiapin. Sebenernya saya sendiri udah ada cadangan swasta di BINUS University, tapi saya tidak sangat ingin masuk ke universitas itu karena pasti bakal ketemu temen-temen lama saya di Purwokerto dan akan menjadi sangat membosankan.