Throwback – Adaptasi (OASE)

Di sela kelas 3 ini saya mau mengkilas balik tentang kisah saya pertama kali di SMA Pangudi Luhur Van Lith. Jujur saja, SMA ini saya bilang unik dan berbeda dari SMA pada biasanya karena sistem pendidikan karakternya yang cukup tegas. Sebelum saya masuk SMA ini saja, kabar-kabar tentang betapa kerasnya pendidikan di sekolah ini sudah simpang siur ke mana-mana. Terkhusus lagi, kakak kandung saya juga merupakan alumni di sekolah ini. Namun jujur saja, hal itulah yang membuat saya tertarik untuk masuk ke sini, saya ingin ‘masa SMA’ yang berbeda dari biasanya. Prinsip saya waktu itu adalah nekat-nekat saja.

Masuk pertama kali di SMA PL Van Lith, saya disambut dengan kegiatan orientasi asrama dan sekolah, kerap disebut OASE (Orientasi Asrama dan Sekolah). Saat itu saya masuk sebagai angkatan 25 (sebenarnya sekolah sendiri sudah berdiri sangat lama karena bekas sekolah guru saat jaman Belanda dulu), kegiatan orientasi saya dipandu oleh kakak kelas dari angkatan 23 dan 24. OASE? Seram? Iya banget. Ternyata sistemnya lebih keras dari yang saya duga. Pertama masuk saja sudah langsung dibentak-bentak, diberi konsekuensi, dimarah-marahi, dan selalu saja dicari kesalahannya. Saya benar-benar ingat waktu itu konsekuensi push-up yang saya sudah lakukan dalam 5 hari mungkin lebih dari 300x. Setiap saya atau teman saya berbuat kesalahan kecil seperti tidak menyapa, sudah harus menerima konsekuensi. Bahkan, makan saja ada waktunya, sekitaran 7 menit dan harus habis. Apabila tidak habis, maka akan ada konsekuensi. Saat makan tetap ada aturannya, seperti tidak boleh menimbulkan bunyi dari peralatan makan, tidak boleh berdiri sambil mengunyah, tidak boleh berbicara, dan masih banyak lagi. Kami punya tanggungjawab agar satu angkatan kami bisa menghabiskan makanan yang disediakan, maka kami saling membantu menghabiskan makanan tanpa memikirkan kenyang atau tidak, bersih atau tidak, enak atau tidak, yang penting habis. Continue reading

Memangnya Van Lith menjamin masa depan?

Tertanggal 16-18 Februari 2018 saya libur imlek dan wawancara finansial. Jadi kemarin itu udah pengumuman penerimaan peserta didik baru angkatan 28 SMA PL Van Lith. Selamat ya yang ketrima, yang nggak ketrima: don’t be sad, tetaplah bersyukur karena masih ada tempat lain. “Tapi kan di Van Lith ada iniii… itu… di sekolah lain kan gak ada kak? Van Lith juga katanya menjamin masa depan..”

Van Lith menjamin masa depan gak sih?

Pertanyaan yang cukup sering terdengar di telinga saya. Karena ini sedang libur wawancara finansial (WF) di mana orang tua peserta didik yang anaknya diterima sedang di wawancara untuk keperluan finansial di Van Lith nantinya. Maka saya angkat topik ini. Sebelum saya gubris, saya jawab dulu secara singkat dari pertanyaan “Van Lith menjamin masa depan gak sih”: TIDAK.

Jadi ceritanya ada anak (hm.. ga cuma 1 sih) yang dia itu merasa sedih karena tidak diterima di Van Lith, dia bilang kalau dirinya itu merasa down banget karena temen-temennya ada yang biasanya di bawah dia tapi gak diterima. Iya sih, jujur aja sampai sekarang saya sendiri gatau kriteria yang bener-bener tentang penerimaan peserta didik di Van Lith nih apa, poin utamanya apa juga kurang jelas. Yang pasti saya tiba-tiba diterima aja hehe.. 😆 dan opini menariknya adalah: biasanya yang gak pengen-pengen masuk Van Lith itu diterima, eh yang pengen dan ngincer sejak lama itu malah tidak diterima. Banyak rumor yang mengatakan begitu, sebenarnya ada benernya ada enggaknya sih. Enggaknya adalah: di angkatan saya aja ada kok yang sudah mengidam-idamkan Van Lith sejak lama (katanya sih sejak SD wkwk..). Jadi kesimpulannya gimana? Ya saya tetap nggak tahu proses penerimaannya gimana, karena hasil seleksi juga tidak transparan, tiba-tiba hasilnya ada aja. Dan please don’t ask us (panitia dari kakak kelas), karena kita sendiri cuma bertugas jadi panitia pelaksana bukan tim penyeleksi. Saya pribadi 2 tahun lalu jadi koordinator seksi tertulis (termasuk ke tahap 1 seleksi) tugasnya cuma mengawasi dan mengatur jalannya aja, plus nyatetin yang nyontek eheheh.. tapi daftar yang nyontek juga cuma saya kasih aja ke panitia penyeleksi (pendamping dan tim psikologi), gak tahu dipakainya untuk apa.

Tapi poinnya bukan itu sih yang mau saya omongin, yang mau saya omongin adalah: kesuksesan itu gak harus dari Van Lith, dan bukan cuma di Van Lith, dan Van Lith sendiri gak selalu mencetak kader sukses. Buat kalian yang Katolik masih banyak banget referensi SMA-SMA bagus di Indonesia khususnya pulau Jawa ini. Waktu itu saya juga berencana daftar ke Hua-Ind (Kolese Santo Yusuf) tapi karena sudah keterima di Van Lith jadi saya batal. Sepupu saya yang tidak diterima di Van Lith jadinya masuk sana, di sana bagus kok, sistemnya banyak anak-anak pendatang juga, mirip Van Lith, tapi ngekost, so kalian bakal lebih siap buat kuliah nantinya khususnya anak-anak perantau. Masih banyak juga sekolah-sekolah katolik kolese lainnya yang kualitasnya top lah. Kalau mau incer prestasi kalian bisa ambil negeri-negeri di Bandung dan Jogja, wah jos itu mah kualitasnya, ke PTN nya juga ga dipersulit ntar. O yaa, jangan lupa De Britto juga. Sekolah itu banyak juga mencetak orang-orang sukses. Tapi itu juga kalau pendaftarannya gak dibarengin sama Van Lith, soalnya beberapa tahun terakhir tanggal seleksinya kompakan sama Van Lith.

Kembali ke poin yang mau saya omongin: saya bener-bener pengen negasin kalau di mana sekolahmu tidaklah menentukan masa depanmu. Ini beneran 😡 . Tapi dirimu sendiri lah yang menentukan apakah kamu bakal sukses atau enggak. Tidak ada satu sekolahpun yang menjamin kesuksesan anaknya, tetapi mereka membeli bekal & lingkungan yang bisa mendukung peserta didiknya sebaik mungkin. Nah terkait lingkungan di Van Lith tuh menggunakan sistem asrama.. “Nah kak, berarti kan masuk Vanlith seenggaknya dah membawa kita satu langkah menuju kesuksesan karena tinggal di asrama jadi lebih mandiri?”

I don’t think so. Asrama itu bisa aja membawa kamu lebih dekat dengan kesuksesan tapi bisa juga membawa kamu lebih dekat dengan kehancuran hidup. Gimana maksudnya ntuh? Ada temen saya yang gara-gara dia tinggal di asrama hidupnya malah jadi kacau balau, ga bisa adaptasi sampai tahun-tahun kedua bahkan tahun terakhir, ga bisa bersosial, hidupnya menyendiri, alhasil nilai akademisnya juga bobrok gara-gara dia ga merasa punya ‘rumah’ untuk tidur. Ujung-ujungnya? Ya kalau nggak keluar di tengah, mungkin lulus dengan sebuah penyesalan berat di hidupnya karena hidupnya bakal jadi lebih baik kalau dia tidak tinggal di asrama, which is asrama menghancurkan kehidupan dia yang mungkin lebih terjamin di luar asrama.

Masih terkait tentang asrama, saya pernah punya teman cowo, sempat satu unit. Orangnya pinter? Iya. Nilainya bagus? Iya. Sosialnya? Oke banget, dia punya banyak temen, digemari aspi-aspi juga karena dia orangnya have fun banget. Tapi di akhir tahun pertama dia terpaksa harus meninggalkan kami angkatan 25 karena kasus di asrama, yaitu mencuri. Wah sepele banget gak sih? Gak juga sih. Entah saya gak tau dia kleptomania atau gimana tapi dia udah melakukan perbuatan itu sejak lama dan banyak dari kami yang tahu sebenernya tapi diem aja. Sampai akhirnya dia ketangkep pamong dan pihak sekolah memutuskan buat ngeluarin dia karena ketika dikalkulasi curiannya dia udah sekitar 2jt an (konfirmasinya sih gitu dari pihak asrama dan sekolah) :O .. Padahal dia termasuk anak yang berkecukupan di antara kami, ya bisa terbukti dari barang-barangnya yang bermerk. Ini adalah bukti nyata, di mana seorang anak yang harus mengalami 1 tahun di Van Lith yang mana itu buang-buang waktu. Dia bisa masuk ke sekolah yang lebih baik dan gak berasrama. Sekarang dia udah terlanjur punya ‘cap’ buruk. Yang salah siapa? dia? asrama? Menurut saya yang salah adalah ketidaksesuaian antara sistem di sini dan gaya hidupnya dia. Dia punya kebiasaan yang buruk dan ketika hidup berasrama ya dia gak bisa untuk menyesuaikan diri, tapi mungkin di dunia nyata dia bisa jadi orang sukses dan kaya.

Jadi simpulannya adalah Van Lith gak bisa menjamin masa depan seseorang, tetapi Van Lith memberi bekal untuk meraih masa depan seseorang. Yang manakala hal itu gak cuma bisa didapatkan di Van Lith, tapi di banyak tempat, di mana aja pasti ada jalan. Dan for your information yhaa Van Lith juga bukan yang terbaik, apalagi tahun-tahun terakhir ini saya pribadi merasa Van Lith sudah berbeda dengan yang dulu, sistemnya sudah berubah karena fokusnya memang sudah beda.

So.. buat kalian yang tidak diterima di sini, jangan jadikan ini sebagai suatu kegagalan. Bersyukurlah mungkin kamu tidak diterima di sini karena ada tempat yang lebih baik buat kamu, ada jalan menuju kesuksesanmu yang bukan dari sini. Kalau kata pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’. Keep fightin’ for your life and never stop when you fail!

Note : artikel ini bukan bermaksud menjelek-jelekan SMA Van Lith apalagi membuka aib. Tapi saya ingin menunjukan kepada mereka yang tidak diterima bahwa mereka masih punya kesuksesan di tempat lain.

Liburan kurang berfaedah.

Jadi, ceritanya setelah post terakhir saya tentang Ujian Akhir Semester saya yang terakhir (tapi masih ada Uprak, USBN, dan UNBK 2018), saya merasa sangatlah lancar saat mengerjakan UAS itu. UAS terasa berlalu cepat dan akhirnya kelar, lalu datanglah kegiatan-kegiatan akhir di Van Lith ini yaitu rekoleksi dan seminar. Pokoknya tuh ya, disini ga afdol rasanya kalau semesteran nggak ditutup pake rekoleksi/seminar.

Rekoleksi membosankan saya jalani dengan sabar hingga selesai. Untungnya saya gak perlu ikut seminar motivasi karena saya harus izin ke Bogor buat ikut Wisuda an kakak saya yang baru aja lulus dari Ilmu Gizi IPB. Di IPB saya bener-bener ngeliat bahwa kakak saya adalah MINORITAS super di sana. Gimana enggak, satu fakultas yang Katolik cuma beberapa, apalagi yang Tionghoa Katolik. Itulah mengapa saya jg pikir-pikir kalau mau masuk IPB seperti kakak, mama, dan papa saya.

H-1 Pembagian Rapot.

Setelah liburan singkat di Bogor, saya balik lagi ke Muntilan buat ambil rapot besoknya. Sampe di Muntilan, saya langsung beres-beres buat pulang besok habis bagi rapot. Besok saya ke Jogja dulu 2 malem baru pulang ke Purwokerto.

Rapotan

Besoknya, rapot dibagi. Saya bersyukur masih bisa berada di peringkat 1 paralel IPA dengan rata-rata 6 mapel SNMPTN 93.67 (Yupp, di sini rata-rata nilai sangatlah rendah, bisa lewat 90 aja udah susahnya minta ampun 😒). Ini adalah rata-rata tertinggi saya di semester 1-5, sekaligus nilai terbaik saya di Matematika yaitu 97. Saya juga kaget begitu tau bahwa hasil UAS Inggris kemarin saya dapet tertinggi seangkatan dengan angka 95.7, yaa gimana ya biasa ulangan harian mepet-mepet KKM, lagi hoki kali yah.. Dengan hasil ini saya makin optimis SNMPTN, dan buat saya ini adalah konklusi yang buruk, berarti niat saya bakal belajar SBMPTN bakal kendor 😒.

Gempa dan Bentol-bentol di Jogja

Abis bagi rapot, saya langsung caoo ke Jogja ikut temen saya alias nebeng wkwk. Sampe di Jogja saya langsung ke hotel. Saya nginep di Grand Quality Jogja, dan malemnya saya merasakan gempa haha. Spesial banget saya nginep di lantai tinggi dan harus ngerasain gempa, gimana ga panik coba wkwk. Puji Tuhan tidak terjadi apa-apa atau gempa lanjutan yang lebih parah, Tuhan masih sayang sm saya.

Sialnya adalah ketika bangun pagi besoknya, kulit saya bentol-bentol merah dan gatal. Fak, ternyata kasur, sprei, selimut, dan bantal hotel ini kotor, bahkan ada kutu kasat mata yang bisa dihitung. Saya langsung ke dokter dan nanya saya kenapa. Katanya ini masih aman karena saya bentol karena hipersensitivitas / alergi saya, bukan karena ketempelan kutu. So, dalam 1-2 hari saya sembuh.

Purwokerto

Saya pulang ke Purwokerto sama keluarga naik kereta. Akhirnya saya kembali merasakan libur panjang ini lagi setelah sekian lama gak libur. Sayangnya, liburan ini sangat tidak berfaedah. Niat buat belajar SBMPTN menjadi kendor gara-gara rapotan kemarin, seperti yang diramalkan. Saya cuma dapet 3-4 bab TKPA dan 3 bab Kimia.

Di Purwokerto, saya rajin nonton bioskop karena di sini harga masih 30rb an (dibanding Jogja pasti 50rb bisa lebih). Selain itu saya main game Mobile Legend (iseng karena temen saya pada bilang asik) dan Pixel Gun 3D. Main mobile legend pertama kali: “Njir game paan nih, gampang amat, musuhnya juga bego-bego, main kaga perlu strategi”. Yes, karena saya adalah mantan pemain DOTA, main mobile legend terasa mudah bagi saya. Tapi ternyata kata temen saya kalau pas awal-awal memang mudah, baru susah kalau udah level tinggi. Ya kali saya harus main lama dulu baru asik, saya pun berhenti.

Lanjut ke Pixel Gun 3D, saya rajin banget main ini karena disuruh adik saya. Dia suka ngeliatin saya main game FPS. Dan saya memilih game ini karena sebelumnya saya ajak main CS, L4D, dan game realistic lainnya, alhasil malemnya dia nangis mimpi buruk. Jadi saya pilihin game tipe sandblock gini biar mimpinya kotak-kotak.

Pertemuan Vanlithsian Purwokerto 21-27

Ini nih yang saya suka, atas inisiatif mas mbak angkatan 24, akhirnya kami anak vanlith angkatan 21-24 asal Purwokerto/Banyumas yang sudah lulus dan 25-27  regional Purwokerto/Banyumas yang masih di penjara suci bisa berkumpul buat sharing pengalaman. Yang banyak ngomong sih mas mbak angkatan 21 dan 22. Secara mereka yang paling senior, topik penuh dengan cerita horror di asrama. Saya udah ga begitu antusias dengerinnya lantaran bawaan saya pengen cepet lulus jadi kayak mereka. Yang antusias jelas yang baru masuk angkatan 27.

Tahun Baruan & Balik VL

Tahun baru pun tiba, gak terasa saya sudah menjalani 2017 ini dengan sangat cepat. Tiba-tiba dah 2018 tahun dimana saya akan jadi MABA (oh syet 😂). Semoga saya bisa masuk ke PTN idaman saya yak meskipun program belajar SBMPTN liburan ini gagal total haha. Btw, saya bakal ambil pilihan pertama ITB, untuk SNMPTN saya bakal ambil peminatan jurusan Manajemen Rekayasa Industri FTI (kalau masih dimasukin program peminatan). Doakan saya semoga keterima  di SNMPTN ya (karena saya males belajar buat SBMPTN haha 😂..) . Namun saya tetep bakal siapin SBMPTN kok , semoga 😅. Untuk itu saya meninggalkan laptop saya di rumah dan menghapus dulu game-game yang saya cicipi pas liburan.

Sekian post saya tentang liburan akhir taun 2017. Tanggal 2 januari saya balik ke Van Lith untuk menyelesaikan studi SMA saya yang tersisa 4 bulan lagi. At least,

Merry Christmas and Happy New Year 2017! Bye!

 

Pengalaman PDBB Van Lith

Ditahun yang ke 2 di SMA Van Lith ini, saya memutuskan untuk mulai menulis sesuatu yang saya harap berguna buat khalayak luas. Ya, salah satunya adalah pengalaman saya PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di SMA PL Van Lith Muntilan.
Sebelumnya perkenalkan, saya Julius Daniel, biasa dipanggil Judan. Saya merupakan anggota dari keluarga angkatan 25 (Silveration) di SMA Van Lith. Berikut adalah kisah perjuangan saya untuk masuk ke sekolah ini

[ini pergulatan batin saya menentukan pilihan swasta atau negeri, bisa langsung lanjut ke paragraf selanjutnya]

Saya menjalani masa putih biru saya di SMP Susteran Purwokerto (meskipun namanya Susteran tapi ini cewe-cowo). Seperti anak-anak yang lain, di tahun ke 3 adalah saat dimana saya harus menentukan saya mau lanjut ke mana, swasta atau negeri? Kalau saya pilih swasta, sudah jelas dari segi pendidikan cenderung lebih teratur dan terfasilitasi, namun biaya pasti lebih mahal dan nantinya sulit untuk menembus PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Kalau saya pilih negeri, yang SMA negeri trbaik di tempat saya (berdasarkan nilai UN SMP tahun-tahun sebelumnya) yang sempat saya kunjungi dan sangat membuat saya kecewa karena fasilitasnya kurang terawat, kelasnya tidak nyaman, dan guru-gurunya terkenal dateng kasih tugas terus pergi, nilai tinggal di katrol. Orang tua saya membebaskan saya untuk memilih, dia blg “Coba dulu saja ikut tes swasta, nanti keputusan mama kembalikan ke kamu deh.” . Ya, miris memang, meskipun sudah menggunakan sistem pendaftaran SMA Negeri terpusat dengan nilai UN, tetap saja pada akhirnya banyak teman saya yang membayar uang muka dan langsung masuk! Akhirnya, saya memutuskan untuk tes PPDB di Van Lith, Hua-Ind, dan beberapa sekolah kolese lainnya.

PPDB Van Lith dan De Britto adalah terawal dari pilihan saya, karena saya memilih Van Lith maka De Britto pun saya lepas. Saya sendiri tahu Van Lith dari kakak saya (Stefanus Aldo, Angkatan XX Vam Lith) dan guru-guru yang katanya pendidikan di sana bagus. Saya pun daftar menggunakan jalur online dan mendapat nomor pendaftaran 905, terakhiran banget ya! Saya berangkat ke Muntilan untuk tes bersama saudara saya yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Waktu itu ada sekitar 10 orang pendaftar dari kota saya, Purwokerto.

Saya menginap di hotel Artos, Magelang karena perjalanan dari Magelang ke Muntilan lebih dekat dan bebas macet dibanding memilih Jogja sebagai tempat penginapan. Malam sebelum PPDB saya mencoba review materi UN beberapa mapel seperti IPA, Mat, dll.. namun tidak lama, saya pun berhenti dan berkata dalam hati “Yah.. Semua kehendak Tuhan. Just do the best and let god do the rest” meningkatkan kepercayaan diri saya. Saya ga mau terlalu capek dan memilih tidur gasik sekitar jam 10 an.

Pagi-pagi jam 5 saya bangun dengan keadaan jantung saya berdebar-debar “Hari ini PPDB ya?” tanya saya ke kedua orang tua saya seakan belum bisa menerima kenyataan saya beranjak ke SMA. Saya mandi, sikat gigi, breakfast dan bersiap-siap menuju Muntilan. Perjalanan dari Artos Magelang ke Van Lith Muntilan memakan waktu kurang lebih 30 menit.

Sesampainya di SMA PL Van Lith, saya disajikan dengan pemandangan para penjual buku dan papan, sambil mengatakan “Ayo pak, bu, dek beli papannya, nanti kepakai kok di dalem karena gak ada mejanya”. INI PENTING! Jangan pernah membeli papan alas menulis yang dijual oleh mereka, sekalipun mereka mengaku dibawahi nama instansi SMA PL Van Lith, itu bohong! Di tempat tes sudah disediakan papan alas untuk tiap peserta dan sudah dicek keadaannya baik dan siap pakai. Kalau untuk buku seperti “Cara Jitu Masuk Van Lith” yang ngakunya punya soal-soal yang bakal diujikan, kalau saya bilang itu hanya omong kosong, karena materinya adalah materi SMP dan dia hanya copy-paste bank soal SMP lalu diganti book cover nya. Tapi kalau kalian mau membeli alat tulis karena lupa bawa atau kurang cadangan, ya silakan saja karena di dalam tidak disediakan alat tulis, tapi jangan salahkan kalau alat tulis yang dijual kualitas rendah atau bahkan palsu. So, berhati-hati dalam membeli ya guys!

Saya masuk ke Van Lith, sudah sangat ramai saat itu, warna-warni baju seragam SMP yang berbeda-beda membuat saya semakin gugup. Akhirnya saya masuk ke tempat tes saya, untuk yang cowo bertempat di Aula, untuk yang cewe bertempat di Kapel. Ternyata pengawas dan panitianya adalah mereka-mereka yang masih kelas 10.

Tes pertama yang saya hadapi adalah Tes Psikotes dari Pelita Wacana. Untuk tes ini cukup mengandalkan nalar aja, ga ada yang harus dipelajari. Untuk tes ini ada tes kecerdasan spatial, kreatifitas, kinetik dll.. Saran saya saat tes ini, kalian harus dalam keadaan konsentrasi penuh, itu mengapa tes ini ditempatkan pertama. Jangan tidur kemalaman sebelumnya, minum air putih cukup, makan secukupnya. Bentuk-bentuk soalnya saya udah lupa, karena emang ga perlu dipelajari. Ada satu soal terakhir yang masih saya inget karena ini lucu, yaitu disuruh nyebutin benda-benda berwarna putih sebanyak-banyaknya, saya langsung liat sekeliling (tembok, lantai, kapas, kertas, susu, dll) dan saya sempat mengisi ‘sperma’, setelah itu saya baru inget sperma itu bening bukan putih ????. Tes ini semacam tes minat bakat gitu kalau saya bilang. Oiya, ada tes penilaian terhadap gambar juga, jadi diedarin kertas bergambar, terus suruh mencari objek dan menentukan apa yang subjek lakukan (misal : Seseorang sedang menyirami tumbuhan). Lalu ada tes musikal juga, ga susah-susah banget sih karena pertanyaannya mendasar seperti tangga nada, not, dll. Lalu ada tes kepribadian juga, yang diutamakan di sini kejujuran. Pertanyaannya seperti “Jika kamu melihat seseorang yang terjatuh ke sungai, apa yang akan pertama kamu lakukan?” lalu opsinya a. Langsung menolongnya b. Meninggalkan c. Mencari orang lain untuk pertolongan d. Melihat situasi sekitar . Disini hampir tidak ada jawaban yang salah, so.. be honest! ????

Istirahat sekitar 1 jam. Lalu tes mata pelajaran: Matematika, Bahasa, IPA, IPS. Semua soalnya pilihan ganda,  susah.. iya susah. Karena materinya SMP tapi disinggung-singgungkan sama materi SMA. Seperti IPS sudah dipecah menjadi Geografi, Ekonomi, dll (Di SMP saya cuma ada “IPS”). Saya lebih nyaman di soal matematika dan IPA, meskipun ada beberapa soal yang baca soal aja saya ga mudeng ????. Di Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, saran saya jangan berhenti di satu soal, langsung lanjut aja, karena waktunya sangat sedikit. Di IPS, saya gabisa apa-apa ????, karena dominan hapalan dan saya ga belajar apa-apa. Banyak soal-soal UN SMP, jadi pelajarilah kembali UN SMP!

Di sesi terakhir dibagikan kertas berisi data diri. Seperti nama lengkap, ttl, orangtua, nama pastor, paroki, ketua dewan paroki, ketua lingkungan (hapalin namanya jangan sampai lupa, kalau lupa kayak saya, ngarang aja hehe.. Yang penting ga kosong). Data-data ini bakal ditanyakan ulang kalau kalian lolos ke tahap wawancara. Jadi, jangan sampai lupa apa yang kalian tulis di kertas itu!

Hari Pertama selesai. Saya pulang ke hotel.  Pengumuman lolos atau tidak ke tahap berikutnya akan dipublish via website pukul 9 malam. Saya menanti-nantikan hal tersebut. Dan Puji Tuhan, saya lanjut, begitupula dengan saudara saya. Karena saya berasal dari Jawa Tengah jadi saya tes wawancara dan fisik di hari ke 3 (hari ke 2 untuk yang dari luar Jawa).

Hari ke 3, saya kembali ke Van Lith untuk tes fisik dan wawancara. Yang cowo waktu itu tes wawancara dulu baru fisik. Yang cewe, kebalikannya. Ketika saya ngantri untuk wawancara, saya banyak ketemu dan ngobrol2 sama calon kakak kelas yang sebagai panitia ppdb juga. Ini Penting! Saya dikasih tia kakak kelas supaya sebelum masuk ketuk pintu dulu, nunggu dipersilakan, baru masuk. Setelah masuk, jangan langsung duduk, salamin dulu pewawancaranya, setelah dipersilakan duduk barulah duduk. Karena pewawancara akan menilai kesopanan para peserta juga. Saya masuk ke ruang wawancara, hanya ada 3 orang di sana, saya dan 2 pendamping. Seperti yang diinstruksikan, saya ikuti. Wawancara berlangsung mulus, saya jawab pertanyaan demi pertanyaan mereka seperti “tau vanlith dari siapa?” “motivasi masuk vl apa?” “kalau ga ketrima di vl gimana?” “masuk vl karena paksaan ortu atau kemauan sendiri?”. Poin pentingnya adalah jujur! karena mereka sudah berpengalaman mewawancarai tiap tahunnya, jadi pasti bisa bedain kalau ada kebohongan. Hal yang fatal adalah ketika saya ditanyain “Tokoh favorit kamu siapa?”, saya jawab “Ayah saya”, terus ditanyain “Tanggal lahir ayah kamu kapan?”, shit.. ???? saya lupa! beneran, lupa! Jangan sampai seperti itu ya, jadi tetap konsisten sama jawaban kalian, jangan coba berbohong. Oiya, jangan lupa buat eye contact dengan pewawancara, tatap matanya!

Wawancarapun selesai, saya lumayan malu dengan kesalahan saya. Lanjut ke tes fisik. Sialnya saya kedapatan terakhir dan itu ketika hujan, ya saya hujan-hujanan. Tes fisiknya berupa Lari Sprint, Lari di ukuran lap. sepak bola dikasih waktu 12 menit dapat berapa putaran (saya dapet 5 kalau ga salah), push up, sit up, squadrash.

Di sini jujur saja saya kurang, karena saya ga ada persiapan fisik, tapi katanya yang penting usaha kita keliatan kalau kita niat buat masuk.

Habis tes fisik, karena saya orang yang kurang olahraga berakibat badan saya sakit semua. Saya balik ke hotel dalam keadaan basah kuyup.

Done. Di titik ini saya tinggal menunggu hasil. Sekian pengalaman perjuangan PPDB VL saya, semoga berguna buat kalian yang mau daftar juga. Kalau mau tanya sesuatu bisa comment di sini atau add contact saya (line : juliusdan_), saya selalu terbuka.

(Judan. XXV)